Rupiah Dibuka Menguat Tipis, Pasar Menanti Keputusan Suku Bunga BI

Rupiah (Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akhirnya berhasil keluar dari tekanan berat pada Selasa (20/10/2026), yang sempat menembus level psikologis Rp18.000 pada hari sebelumnya. Namun penguatannya masih sangat tipis dan rentan terhadap pembalikan arah.

Rupiah dibuka menguat terbatas di kisaran Rp18.010 hingga Rp18.015 per dolar AS, naik sekitar 31 poin atau 0,07 persen dibandingkan sebelumnya yang berada di level Rp18.046. Rupiah tercatat di Rp18.024 pada pukul 09.10 WIB, sementara sumber lain mencatat pembukaan di Rp18.033 dan bahkan Rp18.043 . Perbedaan tipis antar penyedia data ini mencerminkan likuiditas yang belum sepenuhnya pulih dan tipisnya volume transaksi di awal sesi, namun secara umum konsensus pasar menunjukkan bahwa rupiah berhasil bertahan di atas level Rp18.000 untuk sementara waktu.

Penguatan tipis ini tidak lepas dari upaya Bank Indonesia (BI) yang terus berada di pasar untuk menstabilkan nilai tukar. Namun, di balik penguatan terbatas tersebut, sejumlah sentimen negatif masih membayangi dan berpotensi membalikkan arah rupiah kapan saja.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menyoroti bahwa rupiah masih tertekan oleh sentimen negatif di pasar ekuitas yang terbebani arus keluar dana asing, serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan perang Ukraina-Rusia yang mendorong harga minyak mentah dunia tetap tinggi . Harga minyak yang berada di atas USD110 per barel menjadi momok bagi neraca fiskal Indonesia, terutama karena besarnya subsidi energi dan impor minyak mentah.

Baca Juga: Menko Airlangga Sebut Pelemahan IHSG Wajar di Tengah Sentimen Negatif MSCI

Selain itu, isu Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka konsultasi untuk menurunkan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market masih menjadi beban psikologis yang signifikan. Meskipun konsultasi tersebut baru akan berakhir pada April 2027 dan keputusan final diperkirakan pada Juni 2027, kekhawatiran akan arus modal keluar telah telanjur menekan pasar keuangan domestik .

Dari sisi proyeksi, para analis memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada hari ini. Pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah berpotensi ditutup melemah di rentang Rp18.040 hingga Rp18.090 per dolar AS, dengan risiko pelemahan lebih lanjut hingga Rp18.200 sepanjang pekan ini . Faktor-faktor yang akan menjadi penentu arah rupiah dalam jangka pendek mencakup hasil pertemuan Bank Indonesia yang dijadwalkan pada 20-21 Oktober 2026, di mana muncul spekulasi bahwa BI mungkin menaikkan suku bunga acuan ke level 6 persen untuk menjaga daya tarik aset rupiah.

Selain itu, pasar juga akan mencermati perkembangan terbaru terkait respons otoritas terhadap kekhawatiran MSCI, termasuk langkah Bursa Efek Indonesia yang mengeluarkan saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) dari perhitungan IHSG, yang diharapkan dapat memberikan dukungan psikologis bagi pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *