ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan pembalikan arah yang dramatis pada Selasa (20/10/2026), setelah dua hari sebelumnya dilanda aksi jual masif. IHSG dibuka melemah tipis 16,45 poin atau 0,33 persen ke level 4.980,16, meneruskan tekanan dari penutupan Senin yang berada di 4.996,61.
Namun, tidak butuh waktu lama bagi indeks untuk berbalik menguat tajam. Pada pukul 09.12 WIB, IHSG sudah melesat 2,76 persen ke level 5.134, dan bahkan sempat menyentuh level tertinggi harian di 5.177,56 pada pukul 10.10 WIB—sebuah lonjakan intraday yang mencapai 3,62 persen dari posisi pembukaan. Penguatan ini segera mengembalikan IHSG ke atas ambang psikologis 5.000 yang sempat jebol pada Senin, dengan seluruh sektor kompak bergerak di zona hijau, dipimpin oleh sektor transportasi yang naik 3,14 persen, teknologi 3,07 persen, dan properti 2,67 persen .
Rebound tajam ini tidak terjadi begitu saja. Pemicu utamanya adalah langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengumumkan bahwa saham-saham yang masuk dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC) tidak lagi diperhitungkan dalam perhitungan IHSG, meskipun saham-saham tersebut tetap dapat diperdagangkan . Kebijakan ini menyasar sekitar 80 saham dengan bobot mencapai 18 persen terhadap indeks, yang selama ini dinilai mendistorsi pergerakan IHSG karena konsentrasi kepemilikan yang ekstrem.
Baca Juga: Menko Airlangga Sebut Pelemahan IHSG Wajar di Tengah Sentimen Negatif MSCI
Selain itu, BEI juga memperkuat transparansi dengan menambahkan keterangan status afiliasi bagi pemegang saham di atas 1 persen, langkah yang diharapkan dapat memenuhi standar yang disorot MSCI. Sentimen positif lain datang dari pernyataan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang menyatakan akan aktif membeli saham Indonesia karena valuasi dinilai sangat menarik setelah koreksi dalam.
Imbauan BEI kepada investor institusi domestik—termasuk BPJS Ketenagakerjaan, dana pensiun, dan perusahaan asuransi—untuk lebih aktif di pasar saham juga turut menopang psikologis pasar.
Di sisi lain, saham-saham perbankan berkapitalisasi besar yang sebelumnya menjadi bulan-bulanan jual kembali diburu pemodal: BBRI, BMRI, BBNI, dan BBCA kompak menguat dan menjadi penopang utama indeks, disusul TLKM yang melonjak signifikan . Namun, penguatan ini belum merata. Saham-saham terafiliasi konglomerat seperti BREN, AMMN, MORA, dan CUAN justru masih berada di zona merah, mencerminkan bahwa pasar masih mencerna implikasi kebijakan HSC terhadap struktur kepemilikan saham tertentu .
Meski rebound hari ini terlihat meyakinkan, sejumlah analis mengingatkan bahwa tekanan belum sepenuhnya berlalu. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyatakan bahwa secara teknikal tekanan pada IHSG masih berpotensi berlanjut dengan support di kisaran 4.800–4.900, terutama jika tekanan jual pada saham berkapitalisasi besar kembali muncul. Sebaliknya, jika saham-saham big cap mampu mempertahankan momentum rebound, IHSG berpeluang bertahan di atas 5.000.


One thought on “IHSG Berbalik Menguat Tajam, Saham Bank Jadi Penopang”