BI Andalkan Intervensi Berlapis Hadapi Tekanan terhadap Rupiah

Destry Damayanti

ASIAWORLDVIEW – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan komitmen bank sentral untuk selalu bersiaga dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pihaknya akan melakukan intervensi yang dilakukan melalui transaksi spot, Non-Deliverable Forward (NDF), serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Mengutip dari keterangan pers, Selasa (20/10/2026),langkah intervensi yang dijalankan BI mencakup tiga lapis pasar yang berbeda. Transaksi spot dilakukan di pasar valas domestik untuk menjaga harga keseimbangan harian dan mencegah spekulasi jangka pendek. NDF di pasar offshore berfungsi untuk mempengaruhi ekspektasi nilai tukar di luar negeri, tempat banyak investor institusional membentuk posisi terhadap rupiah.

Sementara DNDF di pasar domestik memungkinkan BI menjangkau pelaku pasar dalam negeri dengan instrumen yang lebih fleksibel dan terukur. Kombinasi ketiganya mencerminkan strategi yang tidak hanya bersifat defensif, tetapi juga proaktif dalam membentuk ekspektasi pasar.

“Selain intervensi, BI juga mengucurkan insentif biaya lindung nilai (hedging) sejak akhir Juni 2026,” ia mengatakan.

Baca Juga: Menko Airlangga Sebut Pelemahan IHSG Wajar di Tengah Sentimen Negatif MSCI

Insentif ini disebut telah mendatangkan aliran dana masuk melalui instrumen swap dan DNDF senilai sekitar USD8 miliar hingga USD9 miliar. Dengan menurunkan biaya lindung nilai, BI secara efektif mengurangi biaya kepemilikan aset rupiah, sehingga mendorong masuknya modal portofolio.

Namun, efektivitas langkah-langkah ini sangat bergantung pada seberapa kuat sentimen global yang menghantam pasar emerging market. Jika tekanan eksternal—seperti ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, penguatan dolar AS, atau ketidakpastian geopolitik—terus berlanjut, maka aliran dana masuk yang diperoleh melalui insentif hedging bisa dengan cepat berbalik menjadi arus keluar.

“BI tidak akan tinggal diam dan memiliki ruang fiskal serta instrumen yang cukup untuk merespons tekanan,” ia menambahkan.

Namun, pada akhirnya, stabilitas rupiah tidak hanya ditentukan oleh intervensi bank sentral, tetapi juga oleh konsistensi reformasi struktural, disiplin fiskal, dan perbaikan iklim investasi yang mampu mengubah sentimen jangka panjang terhadap Indonesia.

One thought on “BI Andalkan Intervensi Berlapis Hadapi Tekanan terhadap Rupiah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *