ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergerakan yang fluktuatif dengan kecenderungan melemah tipis di awal sesi pada Selasa (8/9/2026). Namun sempat mencatatkan penguatan di tengah perdagangan.
Mengawali perdagangan, rupiah dibuka melemah. Berdasarkan data dari Bloomberg dan Refinitiv, pada pembukaan, mata uang Garuda melemah 5 poin atau 0,03% ke level Rp17.645 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi dari posisi penutupan perdagangan Senin (7/9/2026) yang berada di level Rp17.640 per dolar AS. Sumber lain seperti CNBC Indonesia juga mencatat pelemahan serupa di level Rp17.635 per dolar AS pada pembukaan.
Meskipun dibuka melemah, rupiah menunjukkan dinamika yang berubah sepanjang sesi perdagangan. Data dari Bloomberg pada pukul 10.00 WIB menunjukkan rupiah berbalik menguat 0,15% ke posisi Rp17.614 per dolar AS. Sumber lain, seperti Kontan.co.id, mencatat rupiah di pasar spot menguat ke level Rp17.638 atau naik 0,01%.
Pergerakan rupiah pada hari itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang saling bertentangan. Kondisi ini menciptakan tekanan bagi mata uang domestik.
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan, menjadi beban utama. Hal ini mendorong harga minyak mentah dunia ke level tertinggi dalam enam pekan, dengan harga minyak Brent melonjak 1,1% ke USD97,31 per barel dan WTI naik 1,3% ke USD92,87 per barel. Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, harga energi yang tinggi meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk impor, yang pada gilirannya membatasi ruang penguatan rupiah.
Pelaku pasar sedang menantikan data inflasi AS (indeks harga konsumen dan produsen) yang akan dirilis. Data ini penting karena dapat mempengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Setelah laporan tenaga kerja AS yang kuat, pasar memperhitungkan peluang sekitar 60% The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan September. Potensi kenaikan suku bunga ini dapat menguatkan dolar AS dan menambah tekanan pada rupiah.
Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 meningkat menjadi USD146,5 miliar, naik dari US$145,3 miliar pada Juli. Posisi ini setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Cadangan devisa yang memadai dapat mendukung ketahanan sektor eksternal dan memperkuat ruang gerak BI dalam menjaga stabilitas rupiah.
Masuknya dana portofolio asing ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) turut membantu mengurangi tekanan pada nilai tukar. Hingga 14 Agustus 2026, tercatat arus masuk bersih portofolio sebesar USD1,8 miliar.
Posisi Rupiah menggambarkan pasar yang sedang berusaha mencari keseimbangan di tengah sentimen yang beragam. Penguatan rupiah sempat terjadi, didorong oleh sentimen positif dari dalam negeri seperti kenaikan cadangan devisa. Namun, tekanan dari faktor eksternal, terutama ketegangan geopolitik yang memicu kenaikan harga minyak dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, terbukti lebih dominan sehingga membuat rupiah kembali tertekan.

