IHSG Dibuka Menguat, Hadapi Tekanan Jual

Pergerakan harga saham,

ASIAWORLDVIEW Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pergerakan yang dinamis dengan dibuka menguat. Namun akhirnya ditutup melemah pada Selasa (8/9/2026).

IHSG memulai perdagangan dengan sentimen positif. Dibuka pada pukul 09:00 WIB, indeks langsung melonjak 19,84 poin atau 0,30% ke level 6.639,51. Penguatan ini didukung oleh data cadangan devisa Indonesia yang meningkat menjadi USD146,5 miliar pada Agustus 2026, level tertinggi sejak Maret, dari USD145,3 miliar pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini dinilai mampu meningkatkan kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi domestik.

Momentum positif berlanjut di awal sesi. Tiga menit setelah pembukaan, IHSG menyentuh level tertinggi sementara di 6.650,87. Pada pukul 09.08 WIB, indeks tercatat menguat 0,46% ke level 6.650. Bahkan, sekitar pukul 09.27 WIB, IHSG sempat melonjak 0,75% ke level 6.669,13.

Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta

Penguatan ini bersifat luas, dengan 11 dari 11 indeks sektoral berada di zona hijau. Sektor energi menjadi pendorong utama dengan kenaikan 1,17%, diikuti sektor barang baku (1,09%) dan transportasi (0,91%). Saham-saham seperti BUMI, AMMN, dan MBMA menjadi pendorong utama indeks LQ45.

Meskipun pembukaan dan awal sesi sangat kuat, IHSG tidak mampu mempertahankan momentumnya. Menjelang penutupan, indeks berbalik arah dan ditutup melemah 16,81 poin atau 0,25% ke level 6.619,67.

Koreksi ini sebagian besar disebabkan oleh tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar, terutama di sektor keuangan. Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Mandiri (BMRI) menjadi pemberat utama indeks pada hari itu. Meskipun demikian, sentimen positif dari data cadangan devisa yang kuat masih mampu menahan laju penurunan yang lebih dalam.

Pergerakan IHSG juga dipengaruhi oleh situasi global yang beragam dan meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan. Hal ini memicu lonjakan harga minyak mentah ke level tertinggi dalam enam pekan.

Pasar Asia-Pasifik pun bergerak bervariasi pada hari itu, dengan indeks Kospi Korea Selatan menguat, sementara Nikkei 225 Jepang dan S&P/ASX 200 Australia melemah. Selain itu, pelaku pasar juga mencermati data ekonomi penting seperti pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang dan kinerja perdagangan China.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *