ASIAWORLDVIEW – Industri multifinance Indonesia pada 2026 menunjukkan ketahanan di tengah tekanan makroekonomi. Kondisi ini tercermin dari penghargaan Indonesia Best Multifinance Awards 2026 yang diberikan Warta Ekonomi kepada 17 perusahaan.
Penilaian tidak hanya bertumpu pada kinerja keuangan, tetapi juga kontribusi terhadap stabilitas ekonomi. Selain itu, transformasi digital, serta pengalaman dan literasi konsumen.
CEO sekaligus Pemimpin Redaksi Warta Ekonomi, Muhamad Ihsan, mengatakan penghargaan ini tidak semata-mata melihat capaian finansial perusahaan, tetapi juga menilai bagaimana perusahaan membangun ketahanan bisnis. Selain itu, memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat serta industri.
“Melalui Indonesia Best Multifinance Awards 2026, kami tidak hanya memberikan apresiasi, tetapi juga ingin meneguhkan komitmen bersama bahwa industri pembiayaan harus terus menjadi motor penggerak inklusi keuangan dan pembangunan ekonomi nasional,” ujar Muhamad Ihsan dalam sambutannya, dikutip Asia World View, Jumat (4/8/026).
Sektor pembiayaan masih tumbuh moderat: piutang multifinance mencapai Rp511,26 triliun pada Juni 2026, naik 1,88% year-on-year, dengan pendorong utama dari pembiayaan modal kerja yang tumbuh lebih tinggi. Kualitas aset relatif terjaga, ditandai NPF gross sekitar 3,01% dan NPF net 0,81%, serta gearing ratio 2,14 kali yang jauh di bawah batas 10 kali. Namun, tekanan kompetisi dan siklus kredit membuat pertumbuhan 6–8% yang ditargetkan industri “berkerikil”, sehingga selektivitas ekspansi dan pengelolaan risiko menjadi kunci.
Warta Ekonomi menggunakan dua pendekatan. Pertama, desk research untuk menganalisis kinerja keuangan (pertumbuhan aset, pendapatan, laba, kualitas aset, dan manajemen risiko) dengan acuan Growth Threshold agar ambang pertumbuhan lebih tegas. Kedua, media monitoring untuk menangkap kontribusi non-finansial melalui tiga indikator: kontribusi terhadap stabilitas ekonomi, transformasi digital dan inovasi, serta customer experience dan literasi keuangan. Dari 144 perusahaan, riset difokuskan pada 108 perusahaan yang membukukan laba, lalu dikelompokkan berdasarkan skala aset untuk memastikan penilaian yang kontekstual.
Secara agregat, hampir separuh perusahaan (42,59%) mencatat pertumbuhan aset dan pendapatan di atas 6%, menunjukkan ada segmen yang masih ekspansif meski industri secara keseluruhan sempat kontraksi tipis pada 2025. Namun, pertumbuhan pendapatan tidak otomatis menaikkan laba: sekitar 23% perusahaan mengalami penurunan laba lebih dari 18%, mengisyaratkan perbedaan kemampuan mengendalikan biaya dan risiko kredit. Hal ini relevan mengingat NPF gross industri bergerak dari 2,51% (Des 2025) ke 2,72% (Jan 2026), sehingga kualitas penyaluran tetap menjadi penentu efisiensi profit.
Dari sisi non-finansial, 60,19% perusahaan teridentifikasi berkontribusi pada stabilitas ekonomi melalui pembiayaan sektor produktif, dukungan UMKM, dan kemitraan strategis; ini selaras dengan data OJK yang mencatat pembiayaan UMKM sekitar Rp160,60 triliun (hampir 30% dari total piutang) pada Maret 2026. Transformasi digital sudah berjalan pada sekitar 51% perusahaan, mencakup credit scoring, onboarding, approval, hingga collection, namun membawa tantangan tata kelola data dan bias algoritma yang perlu diimbangi perlindungan konsumen. Di sisi customer experience dan literasi keuangan, 68,52% perusahaan menunjukkan inisiatif, menandakan pergeseran dari sekadar “proses cepat” ke transparansi biaya dan pemahaman produk oleh nasabah.
Tujuh belas pemenang—mulai dari BCA Finance, FIFGROUP (PT Federal International Finance), Indomobil Finance, hingga Moladin Finance—dinilai unggul dalam kombinasi kinerja keuangan, strategi risiko, dan dampak ekosistem, misalnya melalui inklusi UMKM, program loyalitas digital, atau implementasi ESG. Bagi pelaku industri, hasil ini menegaskan bahwa strategi 2026–2027 sebaiknya menekankan selektivitas portofolio, penguatan modal dan mitigasi NPF, serta digitalisasi yang terkelola agar pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan.
