ASIAWORLDVIEW – Otoritas China menghentikan penyelenggaraan acara Solana di Shaghai. Hal itu karena menilai aktivitas promosinya melanggar larangan transaksi kripto yang berlaku di negara tersebut.
Insiden ini menyoroti ketatnya pengawasan regulator China terhadap proyek blockchain asing dan menjadi sinyal bahwa ekspansi industri aset digital ke pasar Tiongkok masih menghadapi tembok regulasi yang tinggi, mengutip informasi yang di berbagai sosial media.
Menurut laporan Financial Times yang mengutip pejabat Bank Rakyat China (PBOC), penutupan acara Solana Accelerate China 2026 di Shanghai dilatarbelakangi oleh penggunaan entitas lokal dan iklan berskala besar untuk mempromosikan merek serta token kripto Solana.
Baca Juga: Rusia Tegaskan Dompet Kripto Self-Custody Tetap Diizinkan untuk Pembayaran Lintas Batas
Otoritas kemudian menangguhkan seluruh kegiatan promosi offline dan memulai investigasi terhadap perusahaan maupun individu yang terlibat. Langkah ini menegaskan bahwa persoalannya bukan sekadar perizinan acara, melainkan aktivitas promosi mata uang virtual yang secara tegas dilarang dalam kerangka regulasi China.
PBOC menilai aktivitas Solana melampaui batas teknologi blockchain. Platform tersebut menerbitkan token SOL dan menyediakan layanan teknis bagi mata uang kripto lain, termasuk USDT, sehingga masuk dalam kategori bisnis terkait mata uang virtual yang dilarang.
China sendiri telah membatasi aktivitas kripto sejak 2013 dan memperketatnya pada 2021 serta kembali melalui surat keputusan bersama delapan kementerian pada Februari 2026. Regulator mengangkat kekhawatiran atas pencucian uang, identifikasi nasabah, dan spekulasi pasar, dengan alasan mata uang kripto tidak memenuhi persyaratan regulasi keuangan negara.
Insiden ini menambah daftar tantangan yang dihadapi proyek blockchain global ketika berupaya membangun kehadiran di pasar dengan pembatasan ketat. Penundaan sesi pagi acara pada 16 Oktober, setelah peserta dilaporkan menemukan petugas di luar lokasi dan tidak dapat masuk, sempat menimbulkan spekulasi mengenai penyebabnya.
Yayasan Solana awalnya menyalahkan faktor logistik venue tanpa menjelaskan secara rinci, dan hingga kini belum mengumumkan jadwal pengganti. Peristiwa serupa juga terjadi pada acara bertema Solana di Shenzhen pada Oktober 2025, ketika polisi setempat melakukan pemeriksaan dan penyelenggara membatalkan presentasi hackathon final dengan alasan kepadatan dan pertimbangan keselamatan.
Bagi pelaku pasar, kejelasan regulasi tetap menjadi faktor penentu utama dalam menilai kelayakan ekspansi industri aset digital ke Tiongkok, sementara bagi regulator, konsistensi penegakan aturan menjadi prioritas demi menjaga stabilitas sistem keuangan.
