Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Tekanan Ekonomi Menguat

Mata uang Rupiah dan Dolar AS.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar Rupiah terhadap USD atau dolar AS berada di kisaran Rp17.515–Rp17.540 per USD hari ini, Rabu (13/5/2026). Rupiah sempat menguat tipis 0,08% dibanding penutupan kemarin, namun tetap berada di level terlemah sepanjang masa.

Pelemahan nilai tukar Rupiah yang menembus level Rp17.500 per dolar AS telah memicu tekanan multi-dimensi terhadap sendi-sendi perekonomian. Kondisi ini mengguncang mulai dari mahalnya bahan baku impor, ancaman lonjakan harga barang kebutuhan pokok, hingga meningkatnya risiko kredit bagi korporasi yang memiliki utang valas.

Ketua Umum Apindo mengungkapkan bahwa sekitar 70% bahan baku manufaktur serta 55% biaya produksi masih bergantung pada impor, sehingga setiap tekanan pada kurs langsung mengerek biaya bahan baku di dalam negeri secara cepat. Dampaknya, industri sangat rentan terhadap pelemahan kurs, dengan subsektor yang paling tertekan antara lain petrokimia, industri plastik, farmasi, makanan-minuman, dan manufaktur berbasis energi.

Kenaikan harga bahan baku seperti nafta memicu lonjakan resin yang akhirnya menekan industri kemasan dan sektor hilir lainnya, menciptakan tekanan inflasi biaya (cost-push inflation) yang menjalar di sepanjang rantai pasok.

Baca Juga: Rupiah Tembus 17.500, Pemerintah Siap Beli Kembali Obligasi

Risiko kenaikan harga barang-barang kebutuhan masyarakat menjadi ancaman nasib nyata di tengah kondisi pelemahan rupiah. Dalam kajian ekonomi, kondisi ini dikenal sebagai inflasi impor, di mana pelemahan rupiah membuat barang-barang impor lebih mahal dalam denominasi rupiah, dan kenaikan biaya produksi perusahaan akan diteruskan kepada konsumen.

Uang rupiah.(Ekon.go.id)
Uang rupiah.(Ekon.go.id)

Dampaknya juga mulai terasa pada harga pangan, biaya transportasi, dan harga energi dalam rentang waktu satu hingga beberapa bulan mendatang.

Di sektor korporasi, penguatan dolar AS telah memperbesar beban kewajiban perusahaan yang memiliki utang dalam valuta asing (valas), baik pembayaran bunga maupun cicilan pokoknya. Kondisi ini mengakibatkan arus kas perusahaan semakin tertekan, sementara perusahaan tidak leluasa menaikkan harga jual produk karena daya beli masyarakat yang belum pulih, sehingga margin keuntungan tergerus dan risiko kredit meningkat. Akibatnya, pelaku industri mulai menahan ekspansi bisnis dan menerapkan strategi selective growth, sementara investasi yang bersifat spekulatif atau tergantung pada kondisi eksternal mulai ditunda.

Tekanan juga terjadi pada sektor properti, di mana biaya material bangunan rata-rata naik hingga 15% akibat kenaikan dolar AS dan kebijakan bahan bakar minyak (BBM), ditambah dengan perubahan pola pembayaran dari supplier yang kini meminta pembayaran di muka sebelum barang dikirim. Penjualan rumah pun masih stagnan karena masyarakat yang belum pulih daya belinya.

Di level pembiayaan negara, lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini menembus USD104 per barel berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dalam APBN secara signifikan, sekaligus menguatkan kekhawatiran pasar terhadap ruang fiskal pemerintah sehingga memengaruhi persepsi risiko terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan.