Rupiah Mulai Pulih Rp17.900 per USD

Uang rupiah.(Ekon.go.id)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada hari ini, Rabu (10/6/2026), menunjukkan penguatan yang cukup signifikan. Kini, ada di posisi kisaran Rp17.900 per USD, setelah sebelumnya ditutup di Rp18.058.

Penguatan sebesar 149–158 poin atau sekitar 0,83%–0,88%. Ini mencerminkan optimisme pasar di tengah kondisi global yang mulai stabil.

Kurs di sejumlah bank besar juga menegaskan tren positif ini, di mana BCA mencatat kurs beli Rp17.965 dan jual Rp17.990, Mandiri Rp17.910–Rp17.950, BNI Rp17.913–Rp17.933, sementara BRI masih berada di level Rp18.163–Rp18.200.

Faktor utama penguatan rupiah berasal dari sentimen global yang membaik setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah mereda, khususnya pasca Iran dan Israel menghentikan serangan satu sama lain.

Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis, Dibuka di Rp 18.134 per Dolar AS

Selain itu, kebijakan moneter Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 bps menjadi 5,50% turut memperkuat stabilisasi rupiah dan menjaga inflasi tetap terkendali. Aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik juga mendukung penguatan ini, sejalan dengan pergerakan positif IHSG. Di sisi lain, indeks dolar AS relatif stabil di level 99,9–100,02, memberi ruang bagi mata uang Asia termasuk rupiah untuk menguat.

Implikasi dari penguatan rupiah ini cukup luas. Bagi importir, biaya impor menjadi lebih rendah, terutama untuk energi dan bahan baku industri.

Namun bagi eksportir, kurs yang lebih kuat bisa menekan daya saing harga produk di pasar global. Dari sisi investor, stabilitas rupiah meningkatkan kepercayaan pasar dan mendorong masuknya investasi asing. Sementara bagi masyarakat, penguatan rupiah membantu menekan inflasi barang impor, meski tetap perlu waspada terhadap potensi fluktuasi akibat dinamika global.

Secara keseluruhan, penguatan rupiah ke level Rp17.900 per USD hari ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian Indonesia. Namun, kondisi ini tetap harus dipantau dengan hati-hati karena faktor eksternal seperti geopolitik dan kebijakan moneter global masih berpotensi memengaruhi pergerakan kurs dalam waktu dekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *