ASIAWORLDVIEW – Harga emas (XAU/USD) pada perdagangan Selasa (9/12/2025), mengalami pelemahan tipis seiring meningkatnya sikap hati-hati pelaku pasar. Apalagi menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Berdasarkan data pasar, emas diperdagangkan di kisaran USD4.195 per troy ounce, turun sekitar 0,27% setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi harian di USD4.219.
Namun, apabila emas gagal mempertahankan momentum kenaikan dan pasar kembali merespons penguatan dolar, potensi koreksi jangka pendek mengarah ke area $4.180. Level ini menjadi support terdekat sekaligus area keputusan bagi pelaku pasar dalam menentukan arah berikutnya.
Pelaku pasar global kini menunggu keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan rilis pada Rabu waktu AS. Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 90%, naik signifikan dari 66% pada November lalu. Meski demikian, pasar khawatir The Fed akan menyampaikan nada hawkish dalam konferensi pers, termasuk melalui rilis dot-plot yang akan memberi petunjuk arah suku bunga sepanjang 2026.
Baca Juga: Emas Dunia Menguat, Harga Antam Naik Tajam
“Pasar sedang menunggu keputusan Fed dan arahan lebih lanjut mengenai kebijakan,” ujar Peter Grant, Wakil Presiden dan Strategis Senior Logam di Zaner Metals.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, termasuk laporan ketenagakerjaan, ADP Employment, serta data JOLTS Job Openings. Jika data dirilis lebih lemah dari ekspektasi, peluang penurunan suku bunga lanjutan meningkat, sehingga mendukung kenaikan harga emas sebagai aset non-imbal hasil.
Selain faktor moneter, ketegangan geopolitik turut memberi dukungan tambahan terhadap permintaan emas sebagai aset safe-haven. Ketegangan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kembali meningkat, memperkuat permintaan terhadap aset lindung nilai.
Pergerakan ini mencerminkan kecenderungan investor untuk menahan posisi dan mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, sambil menunggu arah kebijakan moneter terbaru dari bank sentral AS yang berpotensi memengaruhi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
