ASIAWORLDVIEW – Pameran LIGHTS IN FRAME di Nuanu, Bali, menjadi salah satu sorotan utama dalam FOTO Bali Festival 2026. Ini menghadirkan eksplorasi fotografi kontemporer yang melampaui batas konvensional, memadukan lensa dengan seni digital, video, arsip, hingga eksperimen material cahaya.
Pameran ini merupakan sebuah penanda penting dalam lanskap seni kontemporer Indonesia, khususnya dalam merayakan dan mengkaji ulang posisi fotografi di era pasca-media. Pameran ini hadir sebagai bagian integral dari FOTO Bali Festival 2026: AFTERIMAGE, sebuah festival berskala internasional yang menggunakan konsep “afterimage”.
Ini menjadi jejak visual yang tertinggal di retina setelah sumber cahaya menghilang. Pengunjung diajak untuk mengeksplorasi bagaimana citra masa lalu membekas, bertransformasi, dan terus hidup dalam memori kolektif maupun personal.
Tidak sekadar memajang foto dalam pengertian konvensional, melainkan memperluas definisi “praktik berbasis lensa” menjadi medan eksplorasi yang jauh lebih cair dan hibrid: karya-karya yang dipresentasikan merentang dari gambar bergerak, proyeksi video, instalasi arsip fotografis yang direaktivasi, narasi personal berbasis foto album keluarga yang didekonstruksi, hingga pendekatan eksperimental yang menggabungkan fotografi dengan seni digital, fotogram, atau manipulasi kimiawi di kamar gelap.
Baca Juga: Mengintip Gerbang Ikonis Nuanu Park, Landmark Budaya Bali yang Kental
Sebanyak 23 seniman yang diundang berasal dari berbagai generasi dan wilayah di Indonesia, menciptakan semacam peta jagat penciptaan yang mencerminkan keragaman konteks sosial-politik dan geokultural Nusantara, mulai dari seniman yang berkutat pada isu identitas dan memori pascakonflik, hingga mereka yang menyelidiki materialitas cahaya itu sendiri sebagai medium kritis.
Kehadiran MTN Seni Budaya, sebuah institusi yang dikenal dengan komitmennya pada pendokumentasian dan pengembangan seni rupa Indonesia, melalui divisi seni visualnya menambah bobot tersendiri pada acara ini, karena private preview yang digelar bukan hanya sebuah seremoni pembuka eksklusif bagi kolektor, kurator, dan media, melainkan juga sebuah ruang perjumpaan yang memungkinkan diskursus mendalam antara perupa dan publik terundang sebelum pameran dibuka untuk umum.
Para hadirin berkesempatan untuk menyaksikan bagaimana tema AFTERIMAGE diinterpretasikan secara beragam: mungkin melalui karya video yang menangkap jejak-jejak sejarah yang nyaris terlupakan, seri foto arsip yang disusun ulang sebagai narasi tandingan terhadap sejarah resmi, atau citra diam yang menyimpan gerakan laten sehingga melahirkan sensasi sinematik dalam kesenyapan.
