World Economy Forum Soroti Adopsi AI di Indonesia Masih Rendah

World Economic Forum

ASIAWORLDVIEW – World Economy Forum 2026 menempatkan adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai salah satu isu strategis bagi masa depan perekonomian Indonesia. AI menawarkan peluang besar untuk mendorong produktivitas, efisiensi, dan daya saing nasional. Namun kesiapan ekosistem digital dan sumber daya manusia masih menjadi tantangan mendasar yang harus segera dijawab secara sistematis.

Mengutip dari siaran pers yang dibagikan, Selasa (20/1/2026), data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa tingkat adopsi AI di Indonesia baru mencapai 27,34 persen. Angka ini mengindikasikan bahwa pemanfaatan AI di sektor industri, layanan publik, dan bisnis masih berada pada tahap awal. Dibandingkan dengan negara-negara maju maupun beberapa ekonomi Asia lainnya, posisi Indonesia masih tertinggal, sekaligus menandakan adanya ruang pertumbuhan yang sangat besar. Potensi ini mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari manufaktur, keuangan, pertanian, logistik, kesehatan, hingga ekonomi kreatif.

Baca Juga: Pakar Kritisi Utopia Teknologi dan AI, Umat Manusia Dapat `Dibuang`

Rndahnya tingkat adopsi AI berimplikasi langsung pada produktivitas nasional. Padahal, teknologi AI berperan penting dalam mengotomatisasi proses, meningkatkan akurasi pengambilan keputusan berbasis data, serta menciptakan model bisnis baru yang lebih efisien. Tanpa percepatan adopsi, Indonesia berisiko kehilangan momentum di tengah persaingan global yang semakin mengandalkan teknologi cerdas sebagai motor pertumbuhan ekonomi.

Tantangan utama terletak pada ketersediaan dan kualitas sumber daya manusia. Komdigi memperkirakan Indonesia membutuhkan sekitar 600.000 talenta digital per tahun untuk mencapai target 9 juta talenta digital pada 2030. Angka ini mencerminkan skala kebutuhan yang sangat besar, sekaligus urgensi pengembangan kapasitas SDM di bidang teknologi, data, dan AI. Tanpa pasokan talenta yang memadai, adopsi AI berpotensi terhambat, bahkan dapat memperlebar kesenjangan antara kebutuhan industri dan kemampuan tenaga kerja nasional.

Kebutuhan talenta digital tersebut juga berkaitan erat dengan agenda jangka panjang Visi Indonesia Digital 2045, yang menempatkan transformasi teknologi sebagai fondasi menuju negara maju. Dalam kerangka ini, AI tidak hanya dipandang sebagai alat peningkat efisiensi ekonomi, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk mendorong inklusi, pemerataan pembangunan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, investasi pada pendidikan, pelatihan vokasi, serta reskilling dan upskilling tenaga kerja menjadi faktor kunci yang tidak dapat ditunda.