ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah minggu ini terus melemah dan sempat menembus rekor terendah di kisaran Rp18.030 per dolar AS atau USD. Angka ini menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia tahun ini.
Pelemahan ini dipicu oleh penguatan dolar AS, ketidakpastian global, serta keluarnya investor asing dari pasar obligasi dan saham domestik. Namun sektor pariwisata justru melonjak.
Mengutip dari berbagai sumber, Minggu (7/6/2026), fenomena anjloknya nilai tukar rupiah terhadap mata uang utama dunia, khususnya dolar Amerika Serikat, telah menciptakan sebuah paradoks ekonomi yang cukup menarik, yaiu lonjakan wisatawan asing.
Di tengah tekanan terhadap neraca perdagangan dan lonjakan biaya impor, sektor pariwisata Indonesia justru mencatatkan lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang memecahkan rekor. Indonesia sebagai destinasi yang jauh lebih terjangkau di mata wisatawan asing.
Baca Juga: Pariwisata Nasional Terimbas Konflik Global, Fokus ke Pasar Asia
Ketika rupiah terdepresiasi hingga menembus level psikologis tertentu, daya beli turis pemegang dolar, euro, yen, atau dollar Australia melonjak drastis. Akomodasi hotel bintang lima, pengalaman bersantap di restoran mewah, paket wisata petualangan, hingga layanan spa dan transportasi lokal tiba-tiba terdiskon besar-besaran tanpa adanya perubahan harga nominal dalam rupiah.

Kondisi ini ibarat magnet yang menarik segmen wisatawan beranggaran menengah ke atas yang sebelumnya menunda perjalanan ke Asia Tenggara, kini berbondong-bondong memilih Bali, Labuan Bajo, Lombok, Yogyakarta, hingga Danau Toba karena mereka bisa menikmati kemewahan setara Eropa dengan separuh, atau bahkan sepertiga, biaya yang biasa mereka keluarkan.
Data dari Badan Pusat Statistik mengkonfirmasi tren ini, pada bulan-bulan ketika rupiah berada di titik terlemahnya dalam beberapa tahun terakhir, angka kedatangan wisman melalui pintu utama seperti Bandara I Gusti Ngurah Rai dan Soekarno-Hatta melonjak hingga menyentuh rekor bulanan tertinggi sepanjang sejarah. bahkan melampaui capaian prapandemi sekalipun.
Total kunjungan tahunan mampu menembus target pemerintah yang ambisius. Bahkan, sempat disebut-sebut mendekati atau bahkan melampaui angka 14 juta kunjungan, ompatan yang menggembirakan bagi industri yang sempat terpuruk akibat lockdown global.
Wisatawan asing bahkan menambah waktu kunjungannya di Indonesia. Lama tinggal dan rata-rata pengeluaran per kunjungan juga menunjukkan peningkatan, karena wisatawan merasa mendapatkan value for money yang luar biasa dan cenderung memperpanjang masa liburan, mencoba lebih banyak atraksi, serta membelanjakan uang mereka untuk produk kreatif lokal, kuliner, dan kriya.
Alhasil, penerimaan devisa dari sektor pariwisata melambung, menjadi salah satu penyangga cadangan devisa di tengah arus keluar modal asing dari pasar keuangan. Selain itu, membantu menyempitkan defisit neraca jasa.
Pemerintah secara proaktif menyederhanakan rezim visa dengan memperluas cakupan Bebas Visa Kunjungan (BVK) dan kemudian meluncurkan Electronic Visa on Arrival (e-VOA) yang memangkas waktu antrean imigrasi, sementara maskapai penerbangan nasional dan asing agresif menambah rute langsung dari kota-kota besar seperti Melbourne, Shanghai, Delhi, hingga Amsterdam.
Promosi pariwisata berbasis digital yang menyasar generasi milenial dan remote workers juga semakin gencar, menampilkan citra Indonesia sebagai surga tropis yang ramah di kantong. Namun, narasi “rupiah anjlok membawa berkah” ini tidak sepenuhnya indah; di sisi domestik, anjloknya rupiah memukul daya beli masyarakat lokal karena inflasi barang impor, termasuk bahan baku operasional hotel dan restoran seperti daging sapi premium, keju, dan peralatan dapur, yang pada akhirnya dapat menggerus margin pelaku usaha pariwisata skala kecil.

