ASIAWORLDVIEW – Zat besi merupakan salah satu mineral esensial yang sangat penting bagi perempuan, terutama remaja putri, karena pada masa ini tubuh sedang mengalami pertumbuhan pesat sekaligus perubahan hormonal yang signifikan. Rata-rata mereka mulai mengalami menstruasi, sehingga kebutuhan zat besi meningkat akibat adanya kehilangan darah setiap bulan.
“Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia defisiensi besi, kondisi yang ditandai dengan rasa lelah, pucat, penurunan konsentrasi, serta berkurangnya daya tahan tubuh. Hal ini dapat berdampak langsung pada prestasi akademik, aktivitas fisik, hingga kesehatan mental,” sebut Dokter spesialis anak dari Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. Dr. dr. Murti Andriastuti, Sp.A, Subsp.H.Onk.(K) pada Selasa (6/10/2026).
Selain itu, zat besi berperan penting dalam pembentukan hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Tanpa kadar zat besi yang cukup, jaringan tubuh tidak akan mendapatkan suplai oksigen optimal, sehingga metabolisme dan fungsi organ terganggu.
“Remaja putri itu selain dia juga mengalami kecepatan tumbuh, juga ada faktor menstruasi, yang nanti kita harus nilai, harus evaluasi. Kalau terlalu banyak atau terlalu lama, itu lama-kelamaan juga akan menjadi penyakit defisiensi besi,” ia menambahkan.
Baca Juga: Mengenal Disleksia Pada Anak: Tantangan Belajar dan Solusinya
Penting bagi remaja putri untuk mengonsumsi makanan kaya zat besi. Misalnya, daging, hati, ikan, telur, kacang-kacangan, serta sayuran berdaun hijau, dan mengombinasikannya dengan sumber vitamin C agar penyerapan lebih maksimal.
“Dengan pemenuhan zat besi yang cukup, remaja putri dapat menjaga kesehatan, mendukung tumbuh kembang optimal, serta mempersiapkan diri menghadapi fase kehidupan dewasa dengan tubuh yang lebih kuat dan bertenaga,” ia menambahkan.
Ia juga menjelaskan, pemeriksaan defisiensi besi penting untuk mendeteksi dan mencegah masalah-masalah akibat kekurangan zat besi. Apalagi yang bisa berlanjut sampai remaja mencapai usia dewasa dan hamil.
“Kalau ibu hamil defisiensi besi itu juga akan berpengaruh pada bayinya, berpengaruh pada proses kelahirannya,” katanya.
Bagi remaja putri, zat besi juga mendukung perkembangan otak, sistem imun, serta menjaga energi agar tetap stabil di tengah aktivitas sekolah, olahraga, maupun kegiatan sosial. Sayangnya, pola makan yang kurang seimbang—misalnya rendah konsumsi daging merah, sayuran hijau, atau sumber zat besi nabati—sering membuat kebutuhan harian tidak tercukupi. Faktor lain seperti diet ketat untuk menjaga berat badan atau kebiasaan minum teh/kopi berlebihan juga dapat menghambat penyerapan zat besi
Upaya pencegahan defisiensi zat besi, menurut dia, perlu dilakukan secara berkesinambungan. Hal itu harus dilakukan sejak dini, mulai dari masa remaja, masa kehamilan, sampai periode awal kehidupan anaknya.
“Kalau kita tarik ke belakang sebelum kita hanya bekerja untuk bayi, tetapi harusnya dari mulai remaja putri kita sudah persiapkan, karena dia tidak boleh mengalami defisiensi besi,” pungkasnya.
