ASIAWORLDVIEW – Anak dengan disleksia mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan memahami simbol bahasa. Namun rata-rata justru memiliki tingkat kecerdasan normal atau bahkan di atas rata-rata.
Kondisi ini bukanlah akibat kurangnya motivasi atau kemampuan belajar, melainkan karena adanya perbedaan cara otak memproses informasi bahasa. Anak disleksia sering kali membutuhkan waktu lebih lama untuk mengenali huruf, menghubungkan bunyi dengan simbol, atau memahami teks yang dibaca.
Dokter spesialis anak subspesialis tumbuh kembang pediatri sosial konsultan dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A, Subsp. T.K.P.S.(K) menilai anak yang memiliki disleksia perlu didampingi saat belajar, termasuk ketika belajar di sekolah. Hal itu perlu dilakukan agar mereka tertinggal dibandingkan teman sebaya, padahal sebenarnya mereka memiliki potensi besar di bidang lain seperti seni, kreativitas, atau pemecahan masalah.
“Guru juga dapat memberikan akomodasi pembelajaran sesuai kebutuhan anak. Bentuknya antara lain memberikan waktu tambahan saat ujian, membacakan teks yang panjang, memungkinkan anak menjawab secara lisan, menggunakan ukuran huruf yang lebih besar, serta menempatkan anak di area dengan gangguan yang lebih sedikit,” ia mengatakan.
Baca Juga: Perawatan Anak Aktif: Pentingnya Menjaga Kebersihan
Intervensi dapat dilakukan secara bertahap, mulai dari pembelajaran di kelas, kelompok kecil, hingga pendampingan secara individual. Jika kesulitan tetap berlangsung dan tidak menunjukkan perbaikan yang berarti, guru perlu berkomunikasi dengan orang tua untuk selanjutnya dilakukan asesmen oleh tenaga profesional.
Penting bagi orang tua dan guru untuk memberikan dukungan yang tepat, seperti menggunakan metode pembelajaran multisensori, memberikan instruksi yang lebih terstruktur, serta menciptakan lingkungan belajar yang sabar dan penuh dorongan positif. Dengan intervensi yang sesuai, anak disleksia dapat berkembang dan menemukan cara belajar yang paling efektif bagi dirinya.
“Dukungan emosional juga sangat penting, karena anak dengan disleksia sering merasa frustrasi atau kehilangan kepercayaan diri akibat kesulitan akademik yang mereka hadapi. Oleh karena itu, memahami kondisi ini sebagai perbedaan cara belajar, bukan kelemahan, akan membantu anak tumbuh dengan rasa percaya diri dan mampu mengoptimalkan potensinya,” pungkasnya.
Sekolah juga dapat mempertimbangkan keberadaan guru pendamping untuk membantu anak berkebutuhan khusus mengikuti proses pembelajaran. Penguatan kapasitas tenaga pendidik juga penting, tambahnya, agar sekolah dapat memberikan dukungan yang sesuai, sekaligus membantu anak tetap percaya diri dalam mengikuti kegiatan belajar.
“Faktor kepercayaan diri itu sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Kalau lingkungan sekolah dan rumah memberikan dukungan yang tepat, tentu hasilnya akan lebih baik,” tututpnya.
