ASIAWORLDVIEW – Dunia penerbangan Asia Tenggara baru saja mengalami pergeseran panggung yang cukup dramatis. Menurut laporan terbaru dari firma analisis penerbangan asal Inggris, OAG, Indonesia masih dengan gagah perkasa mempertahankan takhtanya sebagai raja pasar penerbangan di kawasan ASEAN untuk periode Juli 2026. Dengan jumlah kursi penumpang yang mencapai angka fantastis, yaitu 10,9 juta kursi, Indonesia tetap menjadi primadona di langit regional.
Meskipun pertumbuhannya terbilang tipis, hanya sekitar 0,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini adalah bukti nyata bahwa permintaan perjalanan udara di Indonesia tetap stabil dan kokoh di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
Kondisi ini juga menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia tidak pernah berhenti melanglang buana. Industri penerbangan domestik masih menjadi tulang punggung mobilitas nasional yang tak tergantikan.
Baca Juga: Riset: Wisata Kuliner Jadi Jantung Perjalanan yang Dicari Turis
Namun, yang menarik perhatian adalah pertarungan sengit di posisi runner-up. Jika selama ini Thailand dikenal sebagai surga wisata dunia dengan lalu lintas penerbangan yang padat, kini mereka harus rela turun tahta ke peringkat ketiga. Posisi kedua yang selama ini mereka duduki secara mengejutkan direbut oleh Vietnam.
Negara dengan ekonomi yang sedang melesat ini berhasil mencatatkan 7,4 juta kursi pada periode yang sama, melonjak 5,6% dibandingkan tahun lalu. Ini adalah pencapaian yang luar biasa, menandakan bahwa Vietnam sedang dalam masa keemasan pariwisata dan konektivitas udaranya, dengan maskapai-maskapai baru terus bermunculan dan rute-rute internasional terus dibuka.
Sementara itu, Thailand yang kini turun ke posisi tiga hanya mencatatkan 6,9 juta kursi, mengalami kontraksi kapasitas sebesar 3%—sebuah penurunan yang cukup signifikan bagi negara yang selama ini menjadi gerbang utama pariwisata Asia.
Laporan OAG mengungkapkan bahwa penurunan kapasitas di Malaysia, Thailand, dan Filipina tidak lepas dari dampak krisis yang terjadi di Timur Tengah. Konflik dan ketegangan geopolitik di kawasan tersebut tampaknya telah mempengaruhi pola perjalanan global, termasuk arus penerbangan ke dan dari Asia Tenggara.
Banyak maskapai yang terpaksa menyesuaikan rute, mengurangi frekuensi penerbangan, atau bahkan membatalkan beberapa jalur yang terdampak. Sementara itu, Vietnam justru tampak mampu memanfaatkan momen ini dengan agresif, menjadikan negaranya sebagai alternatif tujuan wisata dan transit yang semakin menarik bagi para pelancong global.
