ASIAWORLDVIEW – Informasi mengenai praktik diet yang beredar di masyarakat terkadang terlalu berlebihan. Anggapan bahwa diet sehat berarti hanya makan makanan rebusan tanpa minyak, tanpa lemak, dan serba dibatasi.
Dokter spesialis gizi klinik lulusan Universitas Indonesia, dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, menegaskan, Senin (28/9/2026), bahwa pola makan sehat tidak cukup hanya dengan mengonsumsi makanan rebusan saja. Menurutnya, makanan rebusan memang boleh menjadi pilihan, terutama pada pagi hari, tetapi menu tetap harus lengkap, terutama harus ada sumber protein di dalamnya.
“Makanan seperti kentang, ubi, singkong, dan jagung tidak dengan sendirinya memenuhi kebutuhan protein tubuh, sehingga perlu ditambahkan asupan protein seperti telur, edamame, atau tahu yang dikukus. Selain protein, lemak juga tetap dibutuhkan saat seseorang menjalani diet,” ia mengatakan.
Minyak tetap dapat digunakan dalam makanan, tetapi dalam batas yang wajar. Sementara konsumsi makanan yang seluruhnya dimasak dengan cara deep fried atau digoreng dengan banyak minyak tidak dianjurkan.
“Jadi lemak tetap kita perlukan. Jadi gak selamanya harus makanannya itu blend hanya rebus-rebusan, kemudian tanpa lemak, tanpa minyak sama sekali,” ujarnya.
Baca Juga: Ahli Gizi: Makanan Tinggi Fiber Bikin Tidur Lebih Nyenyak
Senada dengan itu, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi lulusan Universitas Andalas, dr. Bobby Arfhan Anwar, Sp. JP (K), FIHA, menambahkan bahwa untuk hidup sehat, setiap individu perlu memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi. Prinsip dasarnya adalah rendah gula, rendah lemak, dan rendah garam—terutama bagi mereka yang sudah memasuki usia 30-an, karena kondisi tubuh tidak lagi sama dengan saat masih muda.
“Kita perlu memperhatikan apa yang kita makan dan minum. Rendah gula, rendah lemak, rendah garam. Apalagi di usia 30-an, jangan samakan dengan anak-anak yang lebih muda,” kata Bobby.
Selain pola makan, faktor lain yang mendukung tubuh menjadi lebih sehat adalah menghirup udara bersih dengan menjauhi polusi udara, asap rokok, dan vape; rajin berolahraga dan menerapkan gaya hidup aktif seperti berjalan kaki atau kardio; serta menjaga jam tidur dan mengelola stres dengan baik. Seluruh faktor tersebut, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan kesehatan tubuh secara umum, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kondisi jantung dan mencegah obesitas.
“Kalau ada kegemukan itu pada umumnya terjadi ketika faktor-faktor itu tidak seimbang, akhirnya kita menjadi gemuk dan gemuk itulah yang nanti berdistribusi menyebabkan penyakit jantung,” tambahnya.
