ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan pergerakan yang volatil dan berakhir di zona merah pada Senin (21/9/2026). Kondisi ini melanjutkan tekanan jual yang terjadi pada akhir pekan sebelumnya. Indeks dibuka menguat tipis 5,74 poin atau 0,09 persen ke level 6.446,90, namun penguatan tersebut tidak bertahan lama.
Beberapa menit setelah pembukaan, IHSG berbalik melemah dan bahkan sempat menyentuh level terendah 6.408,37, sebelum akhirnya bergerak fluktuatif di sekitar level 6.417–6.429. Pada pukul 09.52 WIB, IHSG tercatat berada di level 6.417,53, turun 23,63 poin atau 0,37 persen dari posisi penutupan sebelumnya di level 6.441,16.
Tekanan jual pada IHSG hari itu dipicu oleh sejumlah faktor eksternal dan domestik yang saling memperkuat. Dari luar negeri, keputusan Bank of Japan (BoJ) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level 1,25 persen, level tertinggi dalam 31 tahun terakhir, menjadi sentimen negatif utama bagi pasar Asia, termasuk Indonesia.
Baca Juga: PNBP Lampaui 94,8% Target, Surplus BI Lunasi Utang Krisis 1998
Kebijakan moneter ketat global ini juga diperparah oleh kenaikan suku bunga The Federal Reserve ke kisaran 3,75–4,00 persen serta imbal hasil US Treasury 10 tahun yang kembali menyentuh level 5 persen, yang mendorong investor global untuk memindahkan dana ke aset berdenominasi dolar AS. Akibatnya, nilai tukar rupiah melemah ke sekitar Rp17.780 per dolar AS, menambah beban bagi pasar saham domestik.
Dari sisi domestik, aksi jual bersih investor asing atau net foreign sell sebesar Rp1,78 triliun pada perdagangan Jumat sebelumnya (18/9/2026) masih membayangi pergerakan IHSG pada awal pekan ini. Hal ini tercermin dari jumlah saham yang melemah lebih banyak dibandingkan saham yang menguat; hingga pukul 09.52 WIB, sebanyak 318 saham tercatat turun.
Sementara 282 saham menguat, dan 363 saham stagnan. Aktivitas perdagangan pada sesi pagi mencatat volume transaksi sekitar 7,486 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp3,18 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 560.800 kali, sementara kapitalisasi pasar BEI berada di level Rp11.226 triliun.
Secara sektoral, sebagian besar sektor mengalami pelemahan, dengan sektor energi turun 0,44 persen, infrastruktur melemah 0,31 persen, dan keuangan terkoreksi 0,21 persen. Sektor transportasi dan logistik menjadi salah satu yang bertahan di zona hijau dengan penguatan 0,65 persen, disusul barang konsumen siklikal yang naik 0,41 persen. Di jajaran saham LQ45, beberapa saham yang memimpin pelemahan antara lain PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) yang turun 2,80 persen, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) turun 1,83 persen, dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) turun 1,36 persen. Sementara itu, saham yang masih menguat di antaranya PT United Tractors Tbk (UNTR) naik 1,11 persen dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) naik 0,68 persen.
Posisi IHSG yang berada di bawah moving average MA5 dan MA20 dengan indikasi death cross menunjukkan tren pelemahan jangka pendek masih berlanjut. Meskipun demikian, indeks masih bertahan di atas MA60, sehingga koreksi yang terjadi masih dapat dikategorikan sebagai pullback selama level support 6.370 tidak tertembus. Analis memperkirakan IHSG cenderung bergerak konsolidatif dengan kecenderungan melemah, dengan support di kisaran 6.371–6.400 dan resistance di level 6.500–6.585. Pasar juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 22–23 September 2026, yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen, sebagai respons terhadap rentetan kenaikan suku bunga bank sentral global.

