Rupiah Melemah ke Rp17.608, Tekanan Global Kian Berat

Teller bank tengah menghitung tumpukan Dolar AS dan Rupiah.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah memburuknya sentimen global pada Jumat (11/9/2026). Berdasarkan data, rupiah turun 0,35 persen ke posisi Rp17.608 per dolar AS.

Sementara itu, data Refinitiv menunjukkan rupiah terdepresiasi 0,23 persen ke level Rp17.570 per dolar AS. Penyebab utama pelemahan rupiah hari ini adalah kombinasi dari dua faktor eksternal yang saling memperkuat: lonjakan harga minyak mentah dunia dan penguatan dolar AS yang didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyatakan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak mentah global, dengan harga minyak Brent menembus level 100 dolar AS per barel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi konflik bukan lagi hanya antara AS dan Iran, tetapi juga melibatkan kelompok Houthi di Yaman dengan Arab Saudi, sehingga mengganggu pasokan minyak dan mendorong harga semakin melambung. Harga minyak mentah Brent tercatat naik hingga 7,1 persen ke level 108 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di level 102,48 dolar AS per barel, naik 6,69 persen. Kenaikan harga minyak ini memicu kekhawatiran investor terhadap risiko pelebaran twin deficits—yaitu defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal—karena Indonesia merupakan negara net importir minyak.

Dari sisi Amerika Serikat, data Producer Price Index (PPI) untuk Agustus 2026 tercatat di atas ekspektasi, mencerminkan tekanan inflasi yang masih persisten pada tingkat produsen. PPI AS meningkat menjadi 5,4 persen year on year dari 4,8 persen pada bulan sebelumnya, melampaui konsensus sebesar 5,3 persen. Setelah rilis data tersebut, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026 meningkat di atas 70 persen, mendorong kenaikan indeks dolar AS dan yield US Treasury.

Baca Juga: Setiap WNI Berusia 17 Tahun Wajib Punya Rekening, Pemerintah Berikan Rp50.000 Per Akun

Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau bergerak stabil di posisi 99,038, setelah sebelumnya ditutup menguat 0,23 persen pada perdagangan Kamis. Yield US Treasury tenor 10 tahun naik 2,3 basis poin ke level 4,965 persen atau semakin mendekati 5 persen. Kenaikan imbal hasil obligasi AS ini meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar sekaligus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Rupiah masih memiliki sejumlah penopang dari dalam negeri, salah satunya adalah cadangan devisa Indonesia yang mencapai 146,5 miliar dolar AS per akhir Agustus 2026, naik dari posisi akhir Juli 2026 sebesar 145,3 miliar dolar AS. Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Selain itu, Bank Indonesia masih aktif melakukan stabilisasi melalui intervensi di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan NDF, sehingga ruang pelemahan rupiah akibat sentimen eksternal berpotensi lebih terbatas.

Dari sisi regional, pergerakan mata uang Asia pada pagi hari ini bervariasi. Peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,32 persen, disusul dolar Taiwan yang turun 0,26 persen dan ringgit Malaysia yang melemah 0,19 persen. Sementara itu, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,21 persen, diikuti yen Jepang yang terkerek 0,04 persen dan yuan China yang menanjak 0,02 persen.

Perhatian pasar kini tertuju pada rilis data inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS yang dijadwalkan pada Jumat waktu setempat. Data tersebut menjadi salah satu indikator ekonomi utama terakhir sebelum The Fed menggelar pertemuan kebijakan pada 15-16 September. Jika inflasi CPI AS lebih tinggi dari perkiraan, dolar AS berpotensi semakin menguat dan menambah tekanan terhadap rupiah. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat meredakan ekspektasi pengetatan moneter serta memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.

Secara keseluruhan, pergerakan rupiah pada 11 September 2026 mencerminkan dominasi sentimen global yang sangat kuat, terutama dari lonjakan harga minyak mentah dunia akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang hawkish. Kenaikan harga minyak tidak hanya menekan neraca transaksi berjalan Indonesia karena kebutuhan impor energi, tetapi juga meningkatkan risiko pelebaran defisit anggaran apabila pemerintah perlu menambah subsidi dan kompensasi energi. Di sisi lain, cadangan devisa yang mencapai rekor 146,5 miliar dolar AS dan kebijakan stabilisasi Bank Indonesia menjadi bantalan yang menahan pelemahan rupiah agar tidak semakin dalam. Investor cenderung mengambil posisi wait and see menjelang rilis data CPI AS, yang akan menjadi katalis penentu arah kebijakan suku bunga The Fed dan pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *