ASIAWORLDVIEW – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan keyakinannya bahwa target-target dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dapat tercapai. Hal itu berkat fondasi makroekonomi yang solid sepanjang paruh pertama 2026.
Dalam konferensi pers di Jakarta, ia menekankan bahwa koordinasi kebijakan moneter, fiskal, dan sektor keuangan menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendukung pencapaian target pertumbuhan. Purbaya menyebut rancangan anggaran yang disusun Presiden Prabowo Subianto dan disampaikan ke DPR hampir pasti bisa direalisasikan, karena pemerintah memiliki pengalaman panjang dalam mengelola kebijakan ekonomi.
RAPBN 2027 memproyeksikan pendapatan negara sebesar Rp3.426 triliun dengan belanja Rp4.097 triliun, sehingga defisit anggaran diperkirakan Rp671,2 triliun atau 2,40 persen dari PDB. Optimisme ini didukung data BPS yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi 5,61 persen pada kuartal pertama dan 5,29 persen pada kuartal kedua 2026. Pemerintah memperkirakan pertumbuhan sepanjang tahun mendekati 6 persen, yang menjadi landasan kuat untuk mencapai target pertumbuhan 6 persen pada 2027.
“Apa yang dirancang oleh Presiden (Prabowo Subianto), yang telah disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), hampir pasti dapat direalisasikan dengan memanfaatkan pengalaman kami yang cukup luas hingga saat ini,” kata Menkeu Purbaya.
Baca Juga: Menkeu Purbaya: Fondasi Solid Semester I 2026 Jadi Modal Raih Target RAPBN 2027
Selain itu, asumsi makro RAPBN 2027 menargetkan nilai tukar Rp17.500 per dolar AS, inflasi 2,5 persen, serta imbal hasil SBN 10 tahun sebesar 6,9 persen. Harga minyak mentah Indonesia ditetapkan US$75 per barel dengan target produksi 610.000 barel per hari, sementara pengangkutan gas ditetapkan 954.000 barel setara minyak per hari.
Dengan kombinasi kebijakan fiskal yang disiplin dan dukungan moneter yang terarah, pemerintah optimis RAPBN 2027 akan menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimisme yang kuat bahwa target-target yang tercantum dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dapat tercapai, didukung oleh kinerja makroekonomi yang kokoh pada paruh pertama tahun 2026.
Berdasarkan rancangan anggaran 2027 yang diusulkan, pendapatan negara diperkirakan mencapai Rp3.426,0 triliun (sekitar US$195,77 miliar), sedangkan belanja negara direncanakan sebesar Rp4.097,2 triliun (US$234,13 miliar). Defisit anggaran diproyeksikan sebesar Rp671,2 triliun (US$38,35 miliar), atau 2,40 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Ia mencatat bahwa pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2026 akan mendekati 6 persen, yang menjadi landasan kuat untuk mencapai target pertumbuhan 6,0 persen yang ditetapkan untuk tahun 2027.
“Hal ini berkat kebijakan moneter, fiskal, dan sektor keuangan yang baik. Ke depan, pada paruh kedua tahun ini, kami memastikan bahwa hal ini akan menjadi lebih baik lagi, sehingga kami dapat tumbuh mendekati 6 persen pada akhir tahun 2026,” ujarnya.
Asumsi makroekonomi tahun 2027 juga menargetkan nilai tukar sebesar Rp17.500 per dolar AS, inflasi sekitar 2,5 persen, dan imbal hasil 6,9 persen untuk Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun. Selain itu, harga minyak mentah Indonesia ditetapkan sebesar US$75 per barel, dengan target pengangkutan minyak sebesar 610.000 barel per hari dan pengangkutan gas sebesar 954.000 barel setara minyak per hari.
