IHSG Anjlok Nyaris 2%, Sentimen Global Tekan Pasar

Ilustrasi pergerakan harga saham.

ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali ditutup melemah, Jumat (11/9/2026), melanjutkan tren koreksi yang telah berlangsung sejak hari sebelumnya. Indeks dibuka turun 36,55 poin atau 0,55 persen ke level 6.552,79. Dalam hitungan menit setelah pembukaan, tekanan jual semakin dalam dan IHSG sempat anjlok hingga nyaris 2 persen ke level terendah 6.462,96.

Sepanjang sesi pagi, mayoritas saham berada di zona merah dengan 533 saham melemah, 81 saham menguat, dan 114 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp4,5 triliun dengan volume 10,24 miliar saham dan frekuensi 582.687 kali. Tekanan jual juga terlihat dari aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp744,7 miliar pada sesi sebelumnya.

Pelemahan IHSG pada hari ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari dalam dan luar negeri. Dari eksternal, eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas, mendorong harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Minyak Brent tercatat melesat 8,7 persen ke level 109,97 dolar AS per barel.

Sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 8,54 persen menuju 104 dolar AS per barel. Kenaikan harga minyak ini memicu kekhawatiran inflasi global yang dapat mempersempit ruang pelonggaran moneter, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap fiskal Indonesia karena asumsi harga minyak dalam APBN berada di sekitar 90 dolar AS per barel.

Baca Juga: Setiap WNI Berusia 17 Tahun Wajib Punya Rekening, Pemerintah Berikan Rp50.000 Per Akun

Dari Amerika Serikat, data Producer Price Index (PPI) Agustus 2026 menunjukkan tekanan inflasi produsen yang lebih tinggi dari perkiraan, dengan PPI headline naik 0,4 persen secara bulanan dan 5,4 persen secara tahunan. Data ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC 16 September 2026.

Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga melonjak menjadi sekitar 72 hingga 73 persen, dari sebelumnya sekitar 64 persen. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun pun naik ke level 4,95 persen, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi dan suku bunga yang bertahan tinggi lebih lama. Kenaikan yield ini turut menekan valuasi aset berisiko di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Nilai tukar rupiah juga ikut melemah ke kisaran Rp17.585 per dolar AS, menambah beban bagi pasar saham. Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama IHSG, dengan Bayan Resources (BYAN) menyumbang pelemahan hingga 12,37 poin, diikuti Bank Central Asia (BBCA) sebesar 11,73 poin, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 6,31 poin, Amman Mineral (AMMN) 5,83 poin, dan Bank Mandiri (BMRI) 4,34 poin. Saham DSSA juga tercatat turun 2,70 persen, MORA melemah 2,35 persen, BREN terkoreksi 2,12 persen, dan BBCA turun 1,95 persen. Secara sektoral, seluruh sektor mengalami koreksi, dengan sektor energi menjadi yang terdalam, diikuti sektor barang baku, konsumer non-primer, dan finansial. Penurunan terdalam pada sesi pagi terjadi pada sektor konsumer primer (-1,63 persen), transportasi (-1,41 persen), dan bahan baku (-1,51 persen).

Katalis utama yang dinantikan pasar adalah rilis data inflasi Amerika Serikat (CPI) untuk bulan Agustus yang dijadwalkan pada hari yang sama. Konsensus pasar memperkirakan headline CPI berada di 3,4 persen YoY dan core CPI 2,4 persen YoY. Jika data inflasi keluar di atas ekspektasi, tekanan jual berpotensi berlanjut, namun jika lebih rendah dari perkiraan, IHSG berpeluang mengalami technical rebound. Secara keseluruhan, pergerakan IHSG pada 11 September 2026 mencerminkan dominasi sentimen global yang sangat kuat, terutama dari lonjakan harga minyak dan ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang hawkish, sehingga investor cenderung wait and see sebelum mengambil posisi lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *