BPOM Dorong Ekosistem Uji Klinis, Fokus Kolaborasi Farmasi Lokal dan Internasional

Pertemuan Tahunan 2026 Asosiasi Studi Obat-obatan Indonesia (IASMED)

ASIAWOLDVIEW Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengimbau perusahaan farmasi dalam dan luar negeri untuk bekerja sama dalam mengembangkan ekosistem uji klinis. Hal ini dilakukan guna memperkuat kemandirian Indonesia di bidang obat-obatan dan alat kesehatan.

“Uji klinis tidak murah, biayanya mahal. Itulah sebabnya kami memfasilitasi perusahaan farmasi, baik lokal maupun internasional, untuk bergabung dan memperluas operasinya di Indonesia,” kata Kepala BPOM Taruna Ikrar di Jakarta.

Berbicara dalam Pertemuan Tahunan 2026 Asosiasi Studi Obat-obatan Indonesia (IASMED), Ikrar mencatat bahwa Indonesia memiliki sumber daya untuk mendukung uji klinis. Semuanya lengkap, mulai dari fasilitas hingga beragam kasus penelitian.

“Uji klinis merupakan fase kritis dalam pengembangan produk kesehatan sebelum dapat digunakan dalam pengobatan pasien,” ia menambahkan.

Baca Juga: Tips Aman Konsumsi Minuman Kolagen yang Tengah Viral

Dalam upaya meningkatkan pengembangan uji klinis di Indonesia, Ikrar menyoroti tiga prioritas. Pertama, membangun ekosistem terintegrasi yang melibatkan BPOM, Kementerian Kesehatan, rumah sakit, serta berbagai fasilitas layanan kesehatan dan penelitian.

“Dari pihak kami, kami juga sedang menyusun peraturan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung berkembangnya uji klinis,” ujarnya.

BPOM juga memajukan pengetahuan ilmiah dan membangun kapasitas para praktisi uji klinis. Hal ini mencakup penentuan produk yang akan diuji, memastikan kesiapan fasilitas, serta menegakkan pedoman etika dan standar operasional.

Ikrar menegaskan bahwa BPOM dan Kementerian Kesehatan berkomitmen untuk mendukung perbaikan di bidang-bidang tersebut guna mewujudkan pelaksanaan uji klinis yang lebih kuat di Indonesia. Selain itu, memperkuat dukungan industri, mengingat pelaksanaan uji klinis memerlukan investasi finansial yang signifikan.

Partisipasi aktif industri dianggap esensial untuk memperluas kapasitas dan memastikan keberlanjutan penelitian klinis di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *