Rupiah Perkasa ke Rp17.628, Kembali Jadi Mata Uang Asia Terkuat

Seorang teller bank menjajarkan uang USD dan Rupiah.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan penguatan yang cukup signifikan pada Jumat (4/9/2026) di tengah berbagai sentimen global dan domestik. Rupiah dibuka perkasa pada perdagangan Jumat pagi, mengalami apresiasi hingga 0,29 persen atau 51 poin ke level Rp17.628 per dolar AS, dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp17.679 per dolar AS.

Bahkan, beberapa sumber mencatat penguatan yang lebih tajam, dengan rupiah sempat menyentuh level Rp17.610 hingga Rp17.608,8 per dolar AS pada pembukaan perdagangan. Pencapaian ini menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan penguatan terbesar di antara mata uang Asia pada hari itu, mengungguli peso Filipina yang menguat 0,26%, dolar Taiwan 0,22%, dan baht Thailand 0,09%.

Penguatan rupiah pada hari Jumat ini terutama didorong oleh melemahnya dolar AS di pasar global, yang dipicu oleh pernyataan bernada “dovish” dari pejabat The Federal Reserve (The Fed), Christopher Waller. Waller menyatakan bahwa dirinya melihat tanda-tanda disinflasi yang menjanjikan di perekonomian AS dan berpotensi mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga acuan, daripada menaikkannya, dalam pertemuan The Fed berikutnya.

Baca Juga: BI Tekankan Stabilitas Ekonomi di Forum G20

Pernyataan ini secara drastis menurunkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga AS pada bulan September, dari sekitar 63% menjadi hanya 50%. Indeks dolar AS (DXY) pun tertekan, bergerak melemah ke area 98,91 setelah sebelumnya tercatat turun 0,69%.

Selain faktor kebijakan moneter AS, pelemahan dolar juga diperparah oleh penguatan tajam yen Jepang, yang melonjak lebih dari 2% ke level 155,47 yen per dolar AS. Penguatan yen ini dipicu oleh meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga pada bulan September, dengan peluang mencapai 75%.

Karena yen merupakan salah satu mata uang utama dalam indeks DXY, penguatannya secara langsung menekan dolar AS dan memberikan ruang lebih luas bagi rupiah untuk menguat. Tekanan tambahan terhadap dolar AS juga datang dari data ketenagakerjaan swasta AS (ADP Employment Change) yang lebih lemah dari perkiraan, yang semakin memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed.

Dari sisi domestik, sentimen positif juga datang dari respons pasar terhadap pelantikan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026-2031, yang merupakan perempuan pertama yang memimpin bank sentral Indonesia. Pasar menyambut positif komitmen Destry untuk menjaga kebijakan tetap responsif terhadap tantangan ekonomi, mendorong stabilitas, dan mendukung pertumbuhan melalui kebijakan yang berdampak, inklusif, dan integratif.

Analis memperingatkan bahwa ruang penguatan rupiah masih terbatas. Kekhawatiran akan meningkatnya inflasi umum dan inti dalam beberapa bulan mendatang, yang dipicu oleh tingginya biaya input dan logistik, kenaikan harga energi, serta potensi gangguan pasokan pangan akibat fenomena El Niño, masih membayangi prospek nilai tukar. Selain itu, eskalasi konflik militer antara AS dan Iran yang kembali memanas juga menambah ketidakpastian global dan berpotensi mengganggu pasokan minyak dari Timur Tengah.

Secara keseluruhan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada 4 September 2026 bergerak dalam rentang yang cukup dinamis, dengan penguatan yang didominasi oleh sentimen eksternal dari pelemahan dolar AS. Berdasarkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah tercatat menguat di level Rp17.689 per dolar AS. Para analis memproyeksikan bahwa rupiah akan terus bergerak fluktuatif namun dengan kecenderungan menguat, berada di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS, tergantung pada perkembangan data ekonomi AS dan sentimen geopolitik global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *