ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin (BTC) mencatatkan lonjakan yang signifikan, Jumat (4/9/2026), kembali menembus level psikologis USD81.000 setelah sempat mengalami koreksi. Pergerakan harga ini terjadi dalam rentang yang cukup dinamis sepanjang hari.
Berdasarkan data dari berbagai platform, harga Bitcoin sempat menyentuh level USD82.262 pada pagi hari, bahkan sempat mendekati USD82.000 sebelum akhirnya terkoreksi.
Berdasarkan data CoinMarketCap, harga Bitcoin tercatat di USD81.223,88 per koin, atau setara dengan sekitar Rp 1,43 miliar (dengan asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di Rp 17.624). Sumber lain melaporkan harga di kisaran USD80.932 hingga USD81.437 pada waktu yang berbeda, dengan kenaikan bervariasi antara 4,19% hingga 5,5% dalam 24 jam. Kapitalisasi pasar kripto global juga ikut terdongkrak, meningkat 4,82% menjadi sekitar USD2,72 triliun.
Baca Juga: Investor Dukung OJK, Integrasi Kripto ke Sistem Keuangan Nasional
Lonjakan harga Bitcoin pada hari Jumat ini didorong oleh beberapa faktor makroekonomi yang saling terkait. Sentimen positif utama berasal dari meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada bulan September.
Gubernur The Fed, Christopher Waller, menyatakan dukungannya untuk mempertahankan suku bunga jika data inflasi Agustus menunjukkan perkembangan positif. Pernyataan “dovish” ini secara signifikan menurunkan ekspektasi pasar, di mana probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin turun dari sekitar 63% menjadi hanya 50%.
Hal ini menyebabkan penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dan melemahnya dolar AS (indeks DXY turun di bawah 99), yang pada gilirannya mendorong aset-aset berisiko seperti Bitcoin menjadi lebih menarik. Selain itu, penguatan yen Jepang yang diduga kuat akibat intervensi dari Bank of Japan (BOJ) turut menekan dolar AS dan menjadi katalis tambahan bagi kenaikan Bitcoin.
Lonjakan ini juga diperkuat oleh aksi beli yang agresif di pasar. Dimulai dari level sekitar USD77.000 pada sore hari sebelumnya, Bitcoin berhasil menembus level resistensi penting seperti USD79.000 dan USD80.000 secara berturut-turut. Pergerakan cepat ini memicu likuidasi besar-besaran pada posisi short (spekulan yang bertaruh pada penurunan harga), dengan lebih dari USD400 juta posisi short likuidasi dalam 24 jam, yang semakin memperkuat momentum kenaikan.
Lonjakan harga juga diikuti oleh peningkatan volume perdagangan yang signifikan, menembus USD41 miliar. Hal ini menandakan adanya perpindahan modal yang serius dan perubahan sentimen pasar yang cepat dari tekanan jual menuju aksi beli.

