ASIAWORLDVIEW – Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa stabilitas ekonomi dan kepastian kebijakan merupakan fondasi penting untuk menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat ketahanan bisnis nasional. Dalam forum G20 FMCBG di Asheville, Carolina Utara, BI menekankan bahwa kerangka kebijakan yang jelas sangat dibutuhkan untuk menghadapi ketidakpastian global.
“Kerangka kebijakan yang jelas sangat penting untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang sedang berlangsung,” sebut akil Gubernur BI Filianingsih Hendarta pada Kamis (3/9/2026), waktu setempat.
BI memaparkan tiga strategi utama: menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali, menyesuaikan kerangka moneter dengan tren digitalisasi dan integrasi keuangan global, serta memperkuat komunikasi kebijakan yang transparan dan kredibel. Pendekatan ini diharapkan mampu menstabilkan pasar, meningkatkan kepercayaan investor, dan memastikan bahwa Indonesia tetap tangguh di tengah gejolak ekonomi dunia.
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Pertama, bank sentral berfokus pada menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali melalui penilaian yang komprehensif dan berwawasan ke depan. Inflasi yang terkendali mengacu pada kondisi di mana kenaikan harga tetap stabil dan berada dalam kisaran target.
Kedua, BI menyesuaikan kerangka moneternya untuk mengikuti laju digitalisasi yang pesat dan integrasi keuangan global yang semakin dalam. Bank sentral mencatat bahwa tren-tren ini menekankan perlunya “kombinasi kebijakan”—yang mengintegrasikan strategi moneter, stabilisasi nilai tukar, alat-alat makroprudensial, dan kebijakan sistem pembayaran.
Ketiga, BI memperkuat komunikasi kebijakan yang transparan, konsisten, dan kredibel untuk menstabilkan ekspektasi pasar dan meningkatkan transmisi kebijakan moneter.
KTT G20 diselenggarakan pada 31 Agustus hingga 1 September 2026, bersama Wakil Menteri Keuangan Juda Agung, yang mewakili pemerintah. Dihadiri oleh anggota G20, lembaga keuangan internasional utama, dan negara-negara tamu, termasuk Belanda, Polandia, Singapura, Qatar, Swiss, dan Uni Emirat Arab.
Meskipun para delegasi mencatat bahwa perekonomian global menunjukkan ketahanan, G20 mengeluarkan proyeksi yang hati-hati, dengan menyoroti hambatan yang terus berlanjut seperti ketegangan geopolitik, gangguan pasokan energi dan perdagangan, inflasi yang membandel, beban utang yang berat, serta volatilitas pasar keuangan.
Untuk mengatasi kerentanan-kerentanan ini, para pemimpin G20 menyerukan kebijakan moneter dan fiskal yang terkoordinasi dengan cermat, dipadukan dengan reformasi struktural, diversifikasi rantai pasokan, serta investasi yang ditargetkan pada inovasi.
Kecerdasan buatan (AI) muncul sebagai fokus utama, dengan para pejabat mengidentifikasi AI sebagai mesin penting bagi produktivitas di masa depan. Namun, para delegasi mengingatkan bahwa adopsi yang cepat harus diimbangi dengan langkah-langkah keamanan siber yang kokoh dan pengamanan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.
Kelompok ini menyimpulkan pertemuan dengan komitmen untuk memperdalam kerja sama internasional terkait isu-isu sistemik yang mendesak, termasuk ketidakseimbangan perdagangan global, pengurangan utang, penipuan keuangan digital, serta perluasan kemitraan sektor swasta guna memastikan pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.
