ASIAWORLDVIEW – Para investor kripto tengah ramai membicarakan sebuah pola pasar yang dinamai dari tokoh kartun ternama, “Bart Simpson.” Pola ini dinamai demikian karena bentuknya yang sangat menyerupai rambut runcing Bart—naik tajam lurus ke atas, lalu mendatar, dan akhirnya melengkung jatuh ke bawah.
Secara ekonomis, pola ini bukan sekadar gambar lucu, melainkan cerminan dari psikologi pasar yang sangat kuat. Pola ini terdiri dari tiga fase utama yang menunjukkan bagaimana perilaku kolektif investor membentuk pergerakan aset.
Fase pertama yaitu Lonjakan (Spike), fase ketika harga bergerak naik secara agresif dan tiba-tiba. Dalam konteks ekonomi, fase ini biasanya dipicu oleh Fear of Missing Out (FOMO). Kenaikan cepat ini sering kali “menipu” pedagang ritel (investor kecil) untuk ikut mengejar momentum, dengan harapan harga akan terus melambung.
Data menunjukkan bahwa pada 19 Agustus 2026, Bitcoin mulai melonjak dari sekitar US$64.420, dan hanya dalam hitungan hari (hingga 21 Agustus) nilainya melonjak hampir US$14.000 ke level USD78.300, bahkan sempat menyentuh tembok resistensi di USD80.700 pada 25 Agustus.
Baca Juga: CLARITY Act Jadi Katalis Adopsi Ethereum, Harga Sukses Bertahan
Setelah lonjakan, harga bergerak mendatar atau sideways dalam rentang yang sempit. Ini adalah masa “kebingungan” di mana volume perdagangan biasanya menurun. Di fase ini, tekanan beli dan jual relatif seimbang, tetapi secara psikologis, ini adalah masa di mana para spekulan mulai bertanya-tanya: apakah kenaikan masih berlanjut atau ini adalah puncaknya? Dalam kasus Bitcoin, fase ini terjadi setelah gagal menembus USD80.700, dan saat tulisan ini dibuat, harga Bitcoin sudah mundur ke kisaran USD76.500.
Ini adalah puncak dari pola, yaitu pembalikan harga yang tajam ke arah berlawanan dari lonjakan awal. Jika pola ini sempurna, harga akan terjun bebas, persis seperti rambut Bart yang runcing kemudian melengkung ke bawah.
Menariknya, para analis senior seperti Mati Greenspan (pendiri Quantum Economics) menilai bahwa meskipun pola ini secara matematis mulai terbentuk di grafik, peluang penyelesaiannya (turun 20%) sangat kecil untuk Bitcoin. Mengapa? Karena menurut teori ekonomi pasar, likuiditas adalah “lem” yang menjaga stabilitas harga.
Pasar Bitcoin saat ini sangat berbeda dengan tahun 2015 ketika pola ini pertama kali diciptakan. Saat itu, pasar kripto masih tipis, dangkal, dan didominasi oleh spekulan individu sehingga volatilitas ekstrem sangat mudah terjadi.
Namun, kini Bitcoin telah menjadi aset institusional. Dengan masuknya dana besar melalui ETF Bitcoin spot, meningkatnya partisipasi dana pensiun, dan deepening market depth (kedalaman pasar), pergerakan liar “Bart Simpson” secara perlahan mulai memudar dari perilaku harga reguler Bitcoin.
Sementara Bitcoin mungkin lolos dari “guntingan rambut” Bart, nasib XRP dinilai jauh lebih berisiko. Dari sudut pandang ekonomi, pergerakan XRP dari USD1 ke USD1,70 hampir secara vertikal dalam rentang waktu yang sama (dimulai 19 Agustus) menunjukkan adanya over-extension atau peregangan harga yang tidak sehat. Kenaikan yang terlalu cepat tanpa adanya koreksi teknikal yang wajar menciptakan “ruang kosong” di bawah harga, yang membuatnya rentan terhadap aksi jual besar-besaran.

