ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin (BTC) kembali melanjutkan tren penurunannya pada Jumat (11/9/2026), dan sempat menyentuh level terendah dalam sepekan di tengah meningkatnya tekanan jual di pasar aset risiko. Berdasarkan data dari berbagai bursa dan agregator pasar, harga Bitcoin tercatat berada di kisaran USD76.500 hingga USD76.900 pada awal perdagangan sesi Asia.
Laporan dari KuCoin menunjukkan bahwa candle harian BTC dibuka pada level USD76.655, turun sekitar 2,11% dibandingkan penutupan sebelumnya. Sementara laporan Tokocrypto mencatat harga di sekitar USD76.858 dengan penurunan 1,88% dalam 24 jam terakhir.
Penurunan ini menandai sesi keempat berturut-turut di mana Bitcoin gagal bertahan di atas ambang USD77.000, sebuah level psikologis yang kini berubah menjadi resistensi jangka pendek. Secara mingguan, BTC telah kehilangan sekitar 4,84% hingga 5,1%, mempertegas pergeseran momentum jangka pendek ke arah negatif setelah sebelumnya menikmati reli yang cukup panjang. Meski demikian, dalam periode yang lebih panjang, Bitcoin masih mencatatkan performa positif, dengan kenaikan sekitar 20,62% dalam 30 hari dan 21,28% dalam 60 hari, sehingga koreksi yang terjadi saat ini lebih tepat dibaca sebagai fase profit taking setelah reli besar, bukan sebagai pembalikan tren jangka menengah.
Tekanan terhadap harga Bitcoin tidak lepas dari faktor makroekonomi global yang kembali memanas. Data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat untuk bulan Agustus 2026 yang dirilis sehari sebelumnya menunjukkan kenaikan year-on-year sebesar 5,4%, jauh lebih tinggi dari ekspektasi pasar dan naik dari 4,8% pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini didorong terutama oleh lonjakan harga energi, dengan diesel naik 24,1% dalam sebulan dan harga minyak mentah Brent yang sempat menembus USD107–USD109 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Imbasnya, imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS 10 tahun melonjak mendekati 5%, sementara yield 30 tahun menembus 5,35%, mencerminkan ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan minggu berikutnya.
Baca Juga: AS Bekukan Aset Kripto USD52,8 Juta Milik Xinbi, Pasar Online China di Telegram
Probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC 16 September melonjak dari sekitar 62% menjadi 74% setelah data PPI dirilis. Suku bunga yang lebih tinggi membuat aset safe haven seperti obligasi menjadi lebih menarik, sekaligus meningkatkan biaya peluang bagi aset berisiko seperti kripto.
Di sisi pasar derivatif, tekanan jual yang intens memicu gelombang likuidasi besar-besaran. Data CoinGlass mencatat bahwa dalam 24 jam terakhir, total posisi yang dilikuidasi mencapai USD454 juta, dengan posisi long (beli) menyumbang sekitar USD360 juta atau hampir 79% dari total kerugian. Lebih dari 96.000 trader terkena likuidasi. Likuidasi ini terkonsentrasi pada sesi perdagangan Asia pagi, tepat setelah Bitcoin menembus level USD77.000 dan memicu rantai margin call otomatis.
Aliran dana institusional melalui Exchange-Traded Fund (ETF) juga menunjukkan pelemahan permintaan. ETF Bitcoin spot AS mencatat arus keluar bersih (net outflow) sekitar USD120 juta, berbanding terbalik dengan kondisi awal bulan ketika inflow masih deras. Sementara itu, ETF Ethereum justru mencatat inflow sekitar USD34,75 juta dan ETF Solana sekitar USD11,73 juta.
Secara keseluruhan pasar masih dalam tekanan. Analis dari Glassnode mencatat bahwa rasio risiko sisi jual berada di level terendah, dengan porsi keuntungan yang direalisasikan oleh pemegang jangka panjang turun dari 88% menjadi 47%, mengindikasikan bahwa penjualan justru didominasi oleh pembeli baru yang panik, bukan oleh investor jangka panjang yang melakukan eksodus besar-besaran.
Dari sisi teknikal, Bitcoin saat ini diperdagangkan di dekat pita bawah Bollinger Bands dengan indikator RSI-14 berada di level 52,8, yang tergolong netral dan belum menunjukkan kondisi jenuh jual (oversold). Para analis memperkirakan support terdekat berada di kisaran USD75.000–USD76.000,.
Tekanan jual berpotensi meningkat dan membuka jalan menuju USD71.800. Sedangkan jika berhasil merebut kembali $78.000, setup bullish jangka pendek dapat kembali terbentuk. Indeks Fear & Greed kripto turun dari 69 menjadi 56, menandakan pergeseran sentimen pasar dari euforia menuju netral.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data Consumer Price Index (CPI) AS yang dijadwalkan malam ini, yang menjadi katalis makro terakhir sebelum pertemuan FOMC minggu depan. Jika inflasi CPI kembali lebih tinggi dari ekspektasi, support di area USD75.000 berpotensi diuji ulang, namun jika data inflasi lebih rendah dari perkiraan, reset leverage yang telah terjadi bisa menciptakan kondisi yang lebih kondusif untuk rebound jangka pendek.
Secara keseluruhan, pergerakan Bitcoin pada 11 September 2026 mencerminkan dinamika pasar yang sangat dipengaruhi oleh faktor makroekonomi global, di mana keputusan kebijakan moneter The Fed, harga energi, dan aliran dana institusional menjadi penentu utama arah harga aset kripto dalam jangka pendek.

