Harga BTC Sideways, Konflik AS-Iran dan Inflasi Global Jadi Faktor Penekan

Bitcoin

ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin (BTC) bergerak dalam pola konsolidasi yang ketat di kisaran USD77.000 pada Kamis (3/9/2026). Kondisi ini melanjutkan fase sideways yang telah berlangsung selama lebih dari dua pekan. Berdasarkan data dari CoinMarketCap dan TradingView, pada pukul 06.15 WIB, harga Bitcoin tercatat terkoreksi tipis 0,25% ke level $77.019,43 per koin.

Pergerakan harga yang sangat sempit ini—dengan kisaran fluktuasi kurang dari 1%—mencerminkan ketidakpastian pasar yang sedang menunggu katalis baru, terutama laporan Non-Farm Payroll (NFP) AS yang akan dirilis pada Jumat (4/9) sebagai penentu arah pergerakan selanjutnya.

Tekanan dari berbagai sisi membayangi pergerakan Bitcoin pada hari itu. Indikator apparent demand Bitcoin dari CryptoQuant kembali memasuki zona negatif setelah sempat membaik selama reli Agustus, menandakan melemahnya permintaan aktif di pasar spot. Arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot AS juga menambah tekanan, dengan tercatatnya outflow sebesar USD236 juta pada sehari sebelumnya.

Baca Juga: Bitcoin Tertahan di Bawah USD80.000, ETF Spot Jadi Arah Penentu

Di sisi makroekonomi, USDeskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran terus memanas, mendorong harga minyak mentah WTI naik ke sekitar USD91 per barel dan memicu kekhawatiran inflasi global. Imbal hasil (yield) obligasi AS juga melonjak ke level tertinggi tahunan, dengan obligasi 10 tahun mendekati 4,82% dan obligasi 2 tahun menyentuh 4,41%—tertinggi sejak Januari 2025—yang semakin menekan aset berisiko seperti kripto.

Meskipun demikian, ada sentimen positif yang menahan harga agar tidak jatuh lebih dalam. Pasar saham AS berhasil bangkit dan mengakhiri tiga hari beruntun koreksi pada Rabu (2/9), dengan Dow Jones naik 294 poin (+0,56%) ke 53.061, S&P 500 naik 0,46%, dan Nasdaq menguat 0,45%. Pemulihan ini sebagian didorong oleh pernyataan John Williams, Presiden New York Fed, yang meyakinkan pasar bahwa kenaikan yield obligasi mencerminkan prospek ekonomi yang kuat, bukan sinyal pengetatan moneter yang agresif.

Ke depan, pasar saat ini berada di titik penentuan yang kritis. Jika laporan NFP AS pada Jumat menunjukkan data yang lebih lemah dari perkiraan, hal itu dapat meredam ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan mendorong Bitcoin menembus resistensi USD80.000.

Sebaliknya, jika data tenaga kerja kuat dan yield obligasi terus melonjak, Bitcoin berisiko turun menguji support USD75.500 atau bahkan USD72.000. Nansen, firma analitik on-chain, menegaskan bahwa bull run belum terkonfirmasi—Bitcoin perlu terlebih dahulu merebut kembali level USD77.400–USD77.650 dengan disertai peningkatan volume perdagangan spot dan arus masuk ETF yang berkelanjutan, sebelum dapat menantang kembali level USD80.000.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *