ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dari koreksi tipis pada Kamis (3/9/2026). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG menguat 0,06% atau naik 4,16 poin ke level 6.599,94. Pergerakan ini merupakan sebuah rebound setelah pada perdagangan Rabu (2/9), IHSG ditutup melemah tipis 0,06% ke level 6.595,78.
Meskipun ditutup dengan kenaikan yang tipis, IHSG membuka perdagangan dengan lonjakan yang cukup signifikan. Indeks dibuka pada level 6.632,83, naik 37,05 poin atau 0,56% dari penutupan hari sebelumnya. Pembukaan yang kuat ini didorong oleh sentimen positif dari bursa saham Asia yang mayoritas menguat pada pagi hari.
Pada awal sesi, IHSG bahkan sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.638,60, sebelum akhirnya mengalami koreksi di kemudian hari dan ditutup di level yang lebih rendah. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di rentang 6.561,00 hingga 6.629,54.
Secara sektoral, penguatan IHSG pada hari itu didukung oleh hampir semua sektor. Sektor transportasi menjadi pemimpin penguatan dengan kenaikan 2,14%, diikuti oleh sektor energi yang naik 1,25% dan sektor barang baku yang menguat 1,19%. Sektor kesehatan, konsumer nonsiklikal, siklikal, industri, properti, infrastruktur, dan keuangan juga tercatat berada di zona hijau. Satu-satunya sektor yang menjadi penekan adalah sektor teknologi, yang justru terkoreksi 1,98%.
Baca Juga: Detik-Detik Destry Damayanti Resmi Dilantik Jadi Gubernur Bank Indonesia
Dari sisi aktivitas perdagangan, pasar mencatat transaksi yang cukup ramai. Volume perdagangan mencapai 7,07 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 2,6 triliun dan frekuensi perdagangan 390.988 kali. Sebanyak 341 saham berhasil menguat, sementara 178 saham melemah dan 201 saham stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 11.615 triliun.
Di antara saham-saham unggulan atau LQ45, saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menjadi top gainer dengan kenaikan 4,04% ke Rp 2.320 per saham. Disusul oleh saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang menguat 3,68% ke Rp 2.820, dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang naik 3,29% ke Rp 11.000. Sementara itu, saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) menjadi top loser di LQ45 dengan penurunan 2,80% ke Rp 695.
Sentimen pasar pada hari itu cukup beragam, dengan investor terus mencermati perkembangan global dan domestik. Faktor global utama yang membayangi adalah eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang meningkatkan risiko gangguan pasokan energi serta memicu kenaikan harga minyak. Harga minyak Brent bahkan sempat menyentuh level di atas USD95 per barel. Selain itu, imbal hasil (yield) obligasi global yang tinggi juga menjadi perhatian, dengan yield Treasury AS tenor 10 tahun sempat mencapai 4,818%.
Di sisi lain, pasar juga menyambut positif data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan perlambatan, dengan perusahaan swasta hanya menambah 38.000 pekerjaan pada Agustus, di bawah ekspektasi 47.000. Hal ini meredam ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang agresif.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari pernyataan Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, yang menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global. Pemerintah juga telah menyepakati asumsi makro untuk RAPBN 2027 dengan target pertumbuhan ekonomi yang ambisius sebesar 6,0% dan inflasi 2,5%.

