Rupiah Menguat ke Rp17.697: Jadi Mata Uang Terkuat di Asia Pagi Ini

Rupiah di antara tumpukan USD.

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak di zona hijau pada Kamis (3/9/2026), dengan penguatan yang cukup signifikan. Angkanya berhasil membalikkan pelemahan yang terjadi pada hari sebelumnya.

Berdasarkan data dari berbagai sumber, rupiah dibuka pada level yang berbeda-beda tergantung platform, namun semuanya menunjukkan tren penguatan. Rupiah membuka di level Rp17.740 per dolar AS, menguat 0,15% atau 27 poin. Sementara itu, data Refinitiv menunjukkan rupiah dibuka di posisi Rp17.705 per dolar AS, terapresiasi 0,25%. Di pasar spot, rupiah dibuka di level Rp17.728 per dolar AS, menguat 0,2%. Angka pembukaan yang bervariasi ini mencerminkan dinamika pasar yang tetap fluktuatif di awal perdagangan.

Sepanjang perdagangan pagi, rupiah terus menunjukkan penguatan dan bahkan sempat menyentuh level Rp17.695 hingga Rp17.697 per dolar AS. Penguatan ini setara dengan kenaikan sekitar 66-68 poin atau 0,37% hingga 0,38% dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya. Bahkan, pada pukul 09.27 WIB, rupiah tercatat berada di posisi Rp17.697, menjadikannya mata uang dengan penguatan terkuat di Asia pada pagi hari itu.

Baca Juga: Risiko Regulatory Capture Ancam Reputasi Dagang RI, Mengapa?

Penguatan rupiah pada hari itu terutama didorong oleh pelemahan dolar AS di pasar global setelah rilis data ketenagakerjaan sektor swasta AS yang mengecewakan. Laporan dari ADP menunjukkan bahwa perusahaan swasta AS hanya menambah 38.000 pekerjaan pada Agustus 2026, jauh di bawah ekspektasi ekonom sebesar 47.000 dan merupakan pertumbuhan pekerjaan terlemah sejak Januari. Data yang lemah ini meredam ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed yang agresif, sehingga menekan nilai dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) pun terpantau melemah 0,08% ke posisi 99,502 pada perdagangan pagi itu.

Meskipun menguat, ruang gerak rupiah tetap terbatas karena masih dibayangi oleh sejumlah sentimen negatif. Eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus memanas menjadi faktor utama yang membatasi penguatan rupiah. Konflik ini mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia, di mana harga Brent naik 1,04% ke USD95,63 per barel. Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran terhadap inflasi global dan gangguan pasokan energi, yang pada gilirannya dapat membebani negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia. Selain itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang sempat naik ke level tertinggi sejak November 2023 juga turut membayangi, karena aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik bagi investor global.

Dari sisi domestik, sentimen juga beragam. Di satu sisi, surplus perdagangan Indonesia pada Juli 2026 yang tidak terduga berkat kinerja ekspor yang melampaui ekspektasi memberikan bantalan bagi rupiah. Ekspor Juli 2026 tercatat mencapai US$26,22 miliar, naik 6,05% dibandingkan Juli 2025. Namun di sisi lain, tekanan inflasi domestik masih menjadi perhatian. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi umum Agustus 2026 sebesar 0,21% secara bulanan dan 3,19% secara tahunan, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama kenaikan inflasi, yang berpotensi menggerus daya beli masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *