ASIAWORLDVIEW – Pasar aset kripto kembali berbalik merah pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Setelah sempat menikmati reli singkat ke atas USD65.000 pada awal pekan, Bitcoin (BTC) mengalami koreksi cukup dalam dan turun ke kisaran USD63.000, menandai titik terendahnya dalam 11 hari terakhir.
Reli yang terjadi sebelumnya membawa BTC menyentuh level tertinggi USD65.658 dianggap hanya bersifat sementara. Hal itu karena gagal menembus resistance kuat di area USD65.600 yang memicu gelombang aksi ambil untung (profit taking) dari para pedagang jangka pendek.
Berdasarkan data dari CoinMarketCap, pada pukul 07.22 WIB, harga Bitcoin diperdagangkan di angka USD63.573, turun sekitar 2,27% dalam 24 jam terakhir. Angka ini selaras dengan data dari berbagai bursa global lainnya, yang menempatkan BTC di rentang USD63.100 hingga US$63.700, dengan kapitalisasi pasar yang menyusut menjadi sekitar USD1,27 triliun. Koreksi ini terjadi di tengah lonjakan volume perdagangan harian yang melonjak ke USD26,26 miliar, mengindikasikan adanya aktivitas jual yang cukup besar dan tekanan yang sedang meningkat.
Baca Juga: Bitcoin Terkoreksi di Zona Merah, Gagal Pertahankan Level USD66.000
Faktor terbesar yang membayangi pasar adalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed yang akan berlangsung pada 28–29 Juli. Para pelaku pasar bersikap sangat hati-hati (wait and see) karena keputusan suku bunga dan pernyataan kebijakan dari Ketua The Fed, Kevin Warsh, akan sangat menentukan arah pasar. Meskipun mayoritas pasar memproyeksikan suku bunga akan dipertahankan di kisaran 3,50%-3,75%, kekhawatiran akan nada hawkish atau sinyal kenaikan suku bunga di masa depan membuat investor menarik diri dari aset berisiko. Data CME FedWatch bahkan menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 30% hingga 40%, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan pekan sebelumnya.
Setelah sempat menikmati arus masuk selama 7 hari berturut-turut, pasar kini dihadapkan pada pembalikan tajam. Bitcoin Spot ETF di AS mencatatkan arus keluar bersih (net outflow) sebesar USD465 juta hanya dalam dua hari perdagangan. BlackRock IBIT, sebagai salah satu pemain terbesar, menjadi kontributor utama dengan arus keluar mendekati USD415 juta.
Hal ini mengindikasikan bahwa institusi-institusi besar mulai mengurangi eksposur mereka di tengah ketidakpastian yang meningkat. Selain itu, pelemahan di sektor saham teknologi, terutama setelah saham Nvidia anjlok 4,8%, turut menekan pasar kripto yang selama ini memiliki korelasi tinggi dengan aset teknologi.
Pergerakan turun yang cepat dari area USD65.000 ke bawah USD64.000 memicu likuidasi besar-besaran di pasar derivatif. Dalam 24 jam terakhir, lebih dari USD610 juta posisi terlikuidasi, dengan mayoritas adalah posisi long (pembelian) yang terkena imbasnya. Fenomena ini menciptakan efek bola salju yang mempercepat penurunan harga karena posisi-posisi dengan leverage tinggi dipaksa tutup secara otomatis.
Pelemahan Bitcoin turut menyeret hampir seluruh aset kripto utama ke zona merah. Ethereum (ETH) turun di bawah USD1.880. Sementara altcoin seperti XRP (-4,49%) dan Solana (-4,33%) mengalami koreksi lebih dalam. Sementara itu, indeks Fear & Greed yang mengukur sentimen pasar turun ke level 29, menandakan bahwa pelaku pasar masih berada dalam zona “Takut” (Fear).

