ASIAWORLDVIEW – Perdagangan minyak mentah hari ini, Kamis (27/8/2026), menjadi saksi kelanjutan tren pelemahan harga minyak dunia yang telah berlangsung selama beberapa hari berturut-turut. Tekanan jual yang berkelanjutan ini utamanya dipicu oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap upaya diplomasi di Timur Tengah, khususnya terkait kemungkinan dibukanya kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Pada penutupan perdagangan, harga minyak mentah acuan dunia mencatatkan pelemahan yang cukup berarti. Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober 2026 di ICE London ditutup turun 0,7% ke level USD87,24 per barel, menandai penurunan untuk hari keempat berturut-turut. Pelemahan serupa juga terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Oktober 2026 di NYMEX, yang turun 0,7% ke posisi USD81,67 per barel, sekaligus menjadi hari kelima beruntun bagi acuan minyak AS tersebut berada di zona merah.
Sepanjang hari, kedua acuan ini sempat menyentuh level yang lebih rendah lagi. Brent dilaporkan sempat turun hingga USD86,28 per barel, sementara WTI menyentuh level USD80,28 per barel pada titik terendahnya. Data dari TradingEconomics pada pukul 09.05 WIB mencatat Brent di US$87,46 dan WTI di USD81,84. Variasi data ini mencerminkan volatilitas yang masih tinggi di pasar komoditas, dengan selisih antara harga tertinggi dan terendah harian yang cukup lebar.
Baca Juga: Gencatan Senjata AS–Iran Dorong Koreksi Harga Energi, Minyak Global Mulai Turun
Inti dari pelemahan harga minyak dalam sepekan terakhir adalah meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Selat Hormuz—yang mengangkut sekitar seperlima konsumsi minyak dan gas global sebelum konflik pecah—dapat segera beroperasi normal kembali. Sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026, aliran minyak melalui selat tersebut telah turun drastis hingga hanya sekitar seperempat dari tingkat sebelum perang.
Katalis utama yang mendorong optimisme ini adalah serangkaian perkembangan diplomatik yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Iran dan Oman dikabarkan sedang menyelesaikan rincian akhir kesepakatan untuk mengelola dan mengendalikan Selat Hormuz secara bersama-sama.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, bertemu dengan rekannya dari Iran, Abbas Araghchi, di Teheran pada awal pekan untuk membahas pembukaan jalur air tersebut. Bahkan, militer Iran mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai pembagian pendapatan dari transportasi melalui selat tersebut.
Langkah diplomasi ini semakin menguat dengan rencana kunjungan Perdana Menteri Qatar ke Iran pada hari yang sama. Kunjungan ini bertujuan untuk meluncurkan kembali pembicaraan diplomatik guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan.
Pasar menafsirkan perkembangan ini sebagai sinyal bahwa kemungkinan adanya gencatan senjata baru dan normalisasi aliran energi di kawasan Teluk mulai terbuka.
