ASIAWORLDVIEW – ETF Bitcoin mengalami arus keluar dana yang sangat besar, mencapai sekitar USD3,4 miliar dalam lima hari perdagangan, menjadikannya rekor tertinggi sejak produk ini diluncurkan pada Januari 2024. Kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor utama, termasuk kenaikan imbal hasil obligasi AS, ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang lebih hawkish, serta aksi profit-taking setelah reli harga Bitcoin sebelumnya.
Dampaknya, harga Bitcoin terkoreksi lebih dari 10% dan menunjukkan korelasi yang semakin erat dengan pasar saham tradisional. Beberapa institusi besar seperti BlackRock, Fidelity, dan Grayscale tercatat mengalami redemption dalam jumlah signifikan, menandakan investor institusional sedang melakukan de-risking dari aset kripto.
“Pasar saat ini sedang berada dalam fase yang sangat dipengaruhi oleh sentimen makro dan arus dana institusi. Namun menariknya, di tengah tekanan harga, indikator fundamental seperti pertumbuhan staking Ethereum dan aktivitas akumulasi institusi masih menunjukkan tren yang positif,” ujar Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ, mengutip Asia World View, Senin (17/6/2026).
Baca Juga: Saham Menguat, Kripto Pulih Setelah Gencatan Senjata AS-Iran
Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian pasar adalah langkah perusahaan Strategy yang sempat menjual 32 BTC pada awal Juni. Meskipun jumlah tersebut relatif kecil dibanding total kepemilikan mereka, pasar sempat merespons negatif karena dianggap bertentangan dengan strategi akumulasi jangka panjang yang selama ini identik dengan perusahaan tersebut.
Namun sentimen tersebut berbalik setelah Strategy kembali melakukan pembelian sekitar 1.550 BTC senilai lebih dari US$100 juta hanya beberapa hari kemudian.
“Aksi Strategy menunjukkan bahwa investor institusi masih aktif memanfaatkan koreksi pasar untuk melakukan akumulasi. Ini menjadi pengingat bahwa pergerakan jangka pendek sering kali dipengaruhi oleh headline, sementara keputusan investasi institusi umumnya tetap berorientasi jangka panjang,” tambahnya.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5% pada 9 Juni 2026. Kebijakan ini bertujuan menstabilkan nilai tukar rupiah yang sempat melemah hingga Rp18.188/USD serta menarik kembali arus modal asing ke instrumen rupiah seperti SRBI dan SBN. Dampak langsung dari kebijakan tersebut terlihat pada penguatan rupiah ke Rp17.944/USD sehari setelah pengumuman, serta lonjakan IHSG lebih dari 7,5% dalam satu sesi perdagangan.
Namun, kombinasi antara arus keluar besar dari ETF Bitcoin dan kebijakan moneter yang lebih ketat menimbulkan risiko volatilitas pasar. Harga kripto menjadi lebih rentan terhadap koreksi lanjutan, sementara kenaikan suku bunga BI meski memberi sinyal stabilitas, juga berpotensi menekan konsumsi dan investasi domestik. Investor ritel disarankan untuk lebih berhati-hati dengan melakukan diversifikasi portofolio, tidak hanya bergantung pada aset berisiko tinggi seperti kripto. Selain itu, faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperbesar potensi gejolak pasar.
