ASIAWORLDVIEW – Bitcoin nyaris anjlok pekan ini, namun faktor makro memberikan peluang bagi harganya untuk pulih. Kripto terbesar ini dibuka di level sekitar USD73.000 pada Minggu lalu. Kemudian merosot di bawah USD60.000 untuk pertama kalinya sejak pemilu AS pada November 2024, dan pulih ke sekitar USD63.500 pada Sabtu (13/6/2026), menurut data CoinDesk. Harganya masih sekitar 50% di bawah rekor Oktober 2025 di dekat USD126.000.
Pergerakan ini mendorong bitcoin ke zona valuasi yang biasanya terlihat di dekat titik terendah pasar bearish. Namun tidak pernah memicu kepanikan yang biasanya mengonfirmasi hal tersebut.
Pemicu penurunan ini berasal dari Strategy milik Michael Saylor, pemegang bitcoin korporat terbesar, yang mengumumkan pada 1 Juni bahwa mereka menjual 32 BTC senilai sekitar $2,5 juta antara 26 Mei dan 31 Mei untuk membiayai dividen saham preferen STRC. Penjualan ini sangat kecil dibandingkan dengan cadangan bitcoin perusahaan yang mencapai sekitar 845.000 BTC, atau sekitar 4% dari total pasokan Bitcoin.
Baca Juga: Bitcoin Bertahan di Atas USD63.000, Data Tenaga Kerja Tekan Sentimen Kripto
Saylor telah menghabiskan bertahun-tahun menjadikan “jangan pernah menjual bitcoin” sebagai inti identitas Strategy. Jadi, ketika perusahaan menjual bahkan 32 koin, para trader menganggapnya bukan sekadar peristiwa neraca, melainkan perubahan perilaku.
Strategy juga menjual sekitar 800.000 saham senilai USD128 juta melalui program “at-the-market” pada minggu yang sama. Jika penjualan bitcoin itu tidak penting, para pedagang pun bertanya-tanya mengapa hal itu perlu dilakukan sama sekali.
Strategy telah memenuhi persyaratan teknis untuk masuk ke dalam indeks pada September 2025, namun tidak terpilih. Beberapa pengamat pasar berpendapat bahwa penolakan perusahaan untuk menjual bitcoin dapat membuatnya terlihat lebih seperti kendaraan investasi daripada perusahaan treasury, yang akan merugikan peluangnya.
Menjual sejumlah kecil bitcoin mungkin membantu Strategy menunjukkan bahwa mereka dapat menggunakan BTC sebagai aset kas korporat, bukan hanya menahannya selamanya.
Reaksi pasar memang nyata. Hal itu karena bitcoin sudah diperdagangkan di tengah selera risiko yang lemah. Ketegangan dengan Iran telah mendorong harga minyak naik dan menghidupkan kembali kekhawatiran tentang suku bunga yang tinggi dalam jangka panjang. Saham-saham teknologi berada di bawah tekanan. Bitcoin diperdagangkan lebih seperti proxy Nasdaq ber-beta tinggi daripada sebagai aset penyimpan nilai yang independen.
