ASIAWORLDVIEW – Indonesia memiliki stok bahan bakar solar yang cukup dan tetap aman dari potensi gangguan pasokan global. Pemerintah memutuskan menghentikan impor bahan bakar pada awal 2026,
Hal itu diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Kamis (26/3/2026). Ia menjelaskan kebijakan tanpa impor tersebut sebagian besar didorong oleh implementasi Rencana Induk Pengembangan Kilang (RDMP).
“Kami ingin meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa negara kita telah menghentikan impor bahan bakar solar,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kekhawatiran terkait pasokan telah teratasi. Juga meminta masyarakat tak perlu panik melakukan pembelian besar-besaran.
Baca Juga: Darurat Energi Filipina Jadi Alarm bagi ASEAN
Pemerintah melakukan implementasi Rencana Induk Pengembangan Kilang (RDMP), yang secara signifikan meningkatkan kapasitas kilang minyak terbesar di Indonesia. Berlokasi di Balikpapan, Kalimantan Timur.
RDMP mendorong pemerintah untuk menahan izin impor bahan bakar diesel, sehingga memaksa operator SPBU swasta untuk memperoleh pasokan dari Pertamina.
Namun, Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi 50 persen kebutuhan bensinnya, sambil menambahkan bahwa pemerintah telah mengidentifikasi negara-negara alternatif untuk mendapatkan pasokan minyak mentah di tengah ketegangan di Timur Tengah, termasuk Angola, Brasil, Amerika Serikat, dan Rusia.
“Selain itu, LPG impor masih memenuhi sekitar 70 persen kebutuhan Indonesia,” tambahnya, sambil meyakinkan masyarakat bahwa stok nasional tetap memadai.
