ASIAWORLDVIEW – Ekspor Indonesia ke Timur Tengah masih berjalan normal di tengah konflik Amerika Serikat dengan Iran yang masih memanas. Namun menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya angkutan. Hal ini menunjukkan ketahanan rantai pasok dan komitmen pelaku usaha untuk menjaga akses pasar di kawasan yang strategis tersebut.
Hal itu diungkapkan Menteri Perdagangan Budi Santoso di Jakarta. Ekspor Indonesia ke Timur Tengah masih berjalan normal, jelasnya, meskipun dihadapkan pada tantangan kenaikan biaya angkutan.
“Informasi tersebut diperoleh dari para pelaku usaha yang tergabung dalam Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI). Mereka menyampaikan kepada kami bahwa memang ada beberapa dampak, terutama untuk ekspor ke Timur Tengah,” jelasnya.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Mulai Ganggu Pariwisata Bali
Biaya logistik meningkat akibat kondisi regional, permintaan terhadap produk Indonesia tetap stabil, terutama komoditas unggulan seperti makanan olahan, tekstil, dan produk manufaktur. Dukungan pemerintah dalam menjaga kelancaran ekspor serta adaptasi pelaku usaha melalui efisiensi distribusi dan diversifikasi jalur pengiriman menjadi faktor penting yang memastikan arus perdagangan tetap terjaga.
Ia mengatakan bahwa secara keseluruhan permintaan komoditas Indonesia dari negara-negara Timur Tengah tetap relatif stabil, namun para eksportir saat ini menghadapi kenaikan biaya logistik atau pengiriman.
“Permintaan dari Timur Tengah sebenarnya tidak berkurang, tetapi biaya pengiriman sedang meningkat,” jelasnya.
Bagi pemerintah, situasi ini menjadi momentum untuk memperkuat infrastruktur logistik nasional dan memperluas kerja sama dagang dengan negara-negara Teluk. Alhasil biaya distribusi dapat ditekan dan daya saing produk Indonesia tetap terjaga.
Indonesia mampu mempertahankan posisinya sebagai mitra dagang yang andal di Timur Tengah, sekaligus memperkuat daya saing produk nasional di pasar global.
