ASIAWORLDVIEW – Kelainan irama jantung yang paling sering ditemukan di dunia, termasuk di Indonesia, adalah fibrilasi atrium (atrial fibrillation). Kondisi ini ditandai dengan detak jantung yang tidak teratur dan sering kali terlalu cepat, sehingga menyebabkan aliran darah di serambi jantung tidak optimal.
Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), FIHA, FAsCC, FEHRA, FAPHRS, Advisary Board PERITMI/Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) & Founder of MENARI, MURI Achievement Holder 2023 menjelaskan, “Fibrilasi Atrium merupakan kelainan irama jantung yang paling sering ditemukan di dunia, termasuk di Indonesia.”
Akibatnya, terbentuk gumpalan darah yang dapat berpindah ke otak dan memicu stroke iskemik. Risiko stroke pada penderita fibrilasi atrium meningkat hingga 5 hingga 7 kali lipat dibandingkan orang tanpa gangguan irama jantung.
“Kelainan irama jantung dampak serius karena meningkatkan risiko Stroke hingga 5 kali lipat dan risiko kematian 2 kali lipat. Namun demikian, sekitar 50% kasus fibrilasi atrium tidak terdiagnosis karena penderitanya tidak menyadari adanya gangguan irama jantung dalam dirinya,” ia menambahkan.
Baca Juga: Gangguan Irama Jantung Sering Tak Bergejala, Deteksi Dini dengan Meraba Nadi
Di Indonesia, prevalensi fibrilasi atrium diperkirakan mencapai lebih dari 7 juta orang, menjadikannya masalah kesehatan serius yang membutuhkan deteksi dini dan penanganan tepat untuk mencegah komplikasi berbahaya seperti stroke.
Pencegahan kelainan irama jantung atau aritmia dapat dilakukan dengan menjaga gaya hidup sehat dan mengendalikan faktor risiko yang memengaruhi kesehatan jantung. Langkah penting meliputi mengonsumsi makanan bergizi seimbang, membatasi asupan garam, gula, dan lemak jenuh, serta rutin berolahraga untuk menjaga kebugaran kardiovaskular.
Selain itu, menghindari kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, dan stres berkepanjangan. Langkah ini sangat berperan dalam mencegah gangguan irama jantung.
Jangan lupakan, pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung atau tekanan darah tinggi, membantu mendeteksi dini adanya kelainan. Hal itu bisa dilakukan dengan mendeteksi nadi sendiri atau Menari.
