ASIAWORLDVIEW – Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Teuku Riefky Harsya dalam pembukaan INACRAFT 2026, Rabu (4/2/2026), menjelaskan peranan produk kriya sebagai ekspresi budaya. Selain itu, penggerak perdagangan global dan penambah nilai ekonomi nasional.
“Produk kriya tidak hanya hadir sebagai wujud ekspresi budaya dan identitas lokal, tetapi juga memainkan peran penting dalam mendorong perdagangan global serta menambah nilai ekonomi nasional,” ia menyebutkan.
Keunikan dan kualitas produk kriya Indonesia menjadikannya kompetitif di pasar internasional, sekaligus memperkuat citra bangsa sebagai pusat kreativitas. Apalagi tema INACRAFT 2026 menekankan peran perempuan di industri kreatif, Exploring and Celebrating Womanpreneur.
Lebih dari itu, peran perempuan sebagai inovator dan wirausaha dalam subsektor ini semakin memperkuat kontribusi kriya terhadap perekonomian. Melalui kreativitas dan kepemimpinan mereka, perempuan tidak hanya menciptakan produk bernilai tinggi, tetapi juga membangun usaha yang mampu menopang ekonomi keluarga serta memberikan dampak positif bagi daerah.
Baca Juga: Fashion Etnik Jadi Statement Modern di INACRAFT 2026
Fashion dan kriya disebut sebagai penyumbang utama dalam pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia, dengan total nilai ekspor yang mencapai 28,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp476,3 triliun. Angka ini menunjukkan betapa besar kontribusi produk-produk kreatif lokal, mulai dari busana hingga kerajinan tangan, dalam memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
“Keberhasilan tersebut tidak hanya mencerminkan daya saing produk kreatif Indonesia, tetapi juga menegaskan potensi besar industri fesyen dan kriya sebagai motor penggerak ekonomi nasional,” pungkasnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga arus modal agar tetap berada di dalam negeri. Ia mengingatkan bahwa fenomena capital outflow dapat menjadi ancaman bagi stabilitas ekonomi kreatif Indonesia.
“Jangan sampai biaya tinggi dan kurangnya insentif kompetitif sering kali mendorong pelaku usaha mencari peluang di luar negeri, sehingga pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang lebih adaptif dan ramah pasar,” ia menyebutkan.
Menurutnya, industri kreatif Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi, namun hal itu hanya bisa tercapai jika ekosistem domestik mampu memberikan daya saing yang setara dengan pasar global.
