ASIAWORLDVIEW – Peningkatan kasus diabetes di Indonesia banyak dipengaruhi oleh gaya hidup yang tidak sehat. Jumlah penderita diabetes di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai sekitar 20,4 juta orang dewasa (usia 20–79 tahun), atau sekitar 7,4 persen dari total penduduk. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak kelima di dunia
dr. Dicky Levenus Tahapary, Sp.PD-KEMD, PhD, FINASIM, Staff Divisi Metabolik-Endokrin FKUI/RSCM, dalam acara di Jakarta, baru-baru ini, menjelaskan, pola makan tinggi gula, lemak jenuh, dan makanan olahan, ditambah dengan kurangnya konsumsi sayur serta buah, membuat kadar gula darah lebih sulit dikendalikan. Pencegahan dan pengelolaan diabetes harus dilakukan sedini mungkin. Langkah paling bijak adalah memulai pola hidup sehat, termasuk menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang.
“Penerapan pola makan yang sehat dan seimbang, yaitu mengonsumsi makanan bergizi yang terdiri dari karbohidrat kompleks, protein berkualitas, lemak sehat, serta sayur dan buah yang kaya serat, vitamin, dan mineral. Itu yang harus kita lakukan, bukan hanya bagi asien diabetes, tapi juga bagi kita untuk pencegahan,” ia mengatakan.
Baca Juga: World Diabetes Day 2025, Ajak Masyarakat Hidup Sehat dan Produktif

Selain itu, penting untuk menjaga asupan kalori sesuai kebutuhan agar energi tubuh tetap tercukupi tanpa menimbulkan risiko kelebihan berat badan atau kekurangan gizi. Dengan pola makan yang teratur dan seimbang, tubuh akan lebih bertenaga, metabolisme berjalan optimal, serta risiko penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung dapat ditekan.
“Konsep Isi Piringku dapat menjadi panduan praktis untuk mencegah diabetes melalui pola makan yang sehat dan seimbang. Dalam satu piring, setengah bagian sebaiknya diisi dengan sayur dan buah segar yang kaya serat, vitamin, dan mineral untuk membantu mengontrol kadar gula darah,” ia menambahkan.
Seperempat piring diisi dengan sumber protein sehat seperti ikan, ayam tanpa kulit, tahu, tempe, atau kacang-kacangan, yang berperan menjaga massa otot dan memperlambat penyerapan glukosa. Seperempat sisanya diisi dengan sumber karbohidrat kompleks seperti nasi merah, kentang rebus, jagung, atau roti gandum, yang memiliki indeks glikemik lebih rendah sehingga tidak menyebabkan lonjakan gula darah secara cepat.
“Jangan lupa untuk membatasi konsumsi gula tambahan, makanan olahan, serta lemak jenuh, dan menggantinya dengan lemak sehat dari alpukat, kacang, atau minyak zaitun,” pungkasnya.
Selain itu, kebiasaan kurang beraktivitas fisik, duduk terlalu lama, serta jarang berolahraga memperburuk kondisi metabolisme tubuh. Faktor lain seperti stres berkepanjangan, kurang tidur, dan kebiasaan merokok juga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko diabetes. Kombinasi dari kebiasaan-kebiasaan tersebut menyebabkan resistensi insulin dan gangguan metabolisme glukosa, sehingga angka penderita diabetes terus naik dari waktu ke waktu.
