ASIAWORLDVIEW – Transaksi mata uang lokal Indonesia telah mencapai hampir USD7 miliar, menurut Bank Indonesia, sebagai bagian dari strategi global untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS atau USD. Angka ini mencerminkan peningkatan signifikan dalam penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT), khususnya dalam perdagangan bilateral antara Indonesia dan mitra utama seperti China dan Jepang.
Bank Indonesia dan bank sentral China, People’s Bank of China, mendirikan kerangka kerja penyelesaian transaksi dalam mata uang lokal pada 2021, yang membuka jalan bagi transaksi akun berjalan dan investasi langsung yang diselesaikan dalam rupiah atau yuan. Bank sentral memperluas cakupan kerangka kerja tersebut untuk mencakup semua item neraca pembayaran setelah meluncurkan kerangka kerja transaksi mata uang lokal pada September. Hal ini mengikuti penandatanganan nota kesepahaman (MoU) selama kunjungan Perdana Menteri China Li Qiang ke Jakarta pada Mei.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa nilai transaksi dengan China telah mencapai sekitar USD7 miliar, sementara dengan Jepang mencapai USD5 miliar. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat stabilitas sistem keuangan, mengurangi risiko nilai tukar, dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui diversifikasi instrumen pembayaran internasional.
Baca Juga: Bank Indonesia: Ekonomi Global 2025 Melambat, Dampak Tarif AS Kian Terasa
“Kami terus memperluas transaksi mata uang lokal tidak hanya dengan negara-negara anggota ASEAN, tetapi juga China dan Jepang. Transaksi yang dicatat Indonesia dengan China menggunakan mata uang lokal mencapai hampir USD7 miliar,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip Asiaworldview.com, Rabu (5/11/2025).
Di tengah fluktuasi ekonomi global dan tekanan geopolitik, langkah ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam memperluas kerja sama regional berbasis mata uang lokal dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Bank Indonesia melaporkan bahwa transaksi mata uang lokal dengan China telah mencapai USD6,23 miliar hingga Juli tahun ini. Angka ini merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan negara lain yang telah menandatangani kesepakatan serupa dengan Jakarta, termasuk Jepang yaitu USD5,08 miliar. Sementara, untuk mata uang Malaysia USD2,03 miliar, dan Bath Thailand USD644 juta.
Kemudian, untuk Won Korea Selatan yaitu USD85 juta, dan mata uang Uni Emirat Arab USD72 juta). Kesepakatan Indonesia-China menyumbang sekitar 45 persen dari total transaksi mata uang lokal yang dicatat oleh negara Asia Tenggara tersebut pada tujuh bulan pertama tahun 2025.
