Bank Indonesia: Ekonomi Global 2025 Melambat, Dampak Tarif AS Kian Terasa

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

ASIAWORLDVIEW – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan bahwa perekonomian global masih berada dalam tren perlambatan sepanjang tahun 2025. Kondisi itu merupakan dampak dari kebijakan tarif timbal balik yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah negara mitra dagangnya.

Hal itu diungkapkan Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa kebijakan proteksionis tersebut telah menekan kinerja ekspor di berbagai negara besar seperti Cjina, Jepang, dan kawasan Eropa. Kondisi tersebut menyebabkan penurunan konsumsi rumah tangga dan meningkatnya tingkat pengangguran di AS sendiri.

“Berbagai indikator menunjukkan pertumbuhan ekonomi melambat di sebagian besar negara, dengan kesenjangan yang semakin lebar di antara mereka. Di AS, kepercayaan bisnis melemah akibat kebijakan tarif yang menyebabkan penurunan konsumsi rumah tangga dan peningkatan pengangguran,” ia mengatakan, dikutip Asiaworldview.com, Kamis (18/9/2025).

Di sisi lain, ketidakpastian global yang tinggi—termasuk volatilitas pasar keuangan dan ekspektasi penurunan suku bunga acuan The Fed—telah mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti emas, sementara aliran modal ke pasar negara berkembang menjadi tertahan. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini akan berada di bawah target sebelumnya, sekitar 3%, dan menekankan pentingnya koordinasi kebijakan serta respons adaptif untuk menjaga ketahanan ekonomi domestik dari dampak rambatan global.

Baca Juga: Bank Indonesia Dorong Efisiensi Pasar untuk Lindungi Nilai Tukar Rupiah

Kinerja ekonomi China juga melambat akibat penurunan ekspor, terutama ke AS, akibat tarif balasan, serta melemahnya permintaan domestik, terutama di sektor investasi.

Ekonomi Eropa dan Jepang juga menunjukkan tren penurunan, dengan kinerja ekspor yang tertekan. Sementara itu, ekonomi India menunjukkan perbaikan ringan, didukung oleh stimulus fiskal untuk meningkatkan konsumsi rumah tangga.

“Mengingat perkembangan ini, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2025 berpotensi lebih rendah dari proyeksi sebelumnya, sekitar 3 persen,” kata Perry Warjiyo.

Dia menambahkan bahwa prospek ekonomi global yang lemah dan tekanan inflasi yang mereda telah mendorong beberapa bank sentral untuk menerapkan kebijakan moneter akomodatif, kecuali di Jepang.

BI juga melihat probabilitas yang semakin tinggi untuk pemotongan suku bunga Fed Funds Rate (FFR), sejalan dengan peningkatan pengangguran AS dan tren penurunan inflasi domestik.

“Probabilitas pemotongan suku bunga Fed Funds Rate juga semakin tinggi, dan kami akan menunggu keputusan besok,” kata Perry.

Di pasar keuangan global, imbal hasil obligasi pemerintah AS turun sejalan dengan ekspektasi pemotongan FFR, yang mendorong penurunan indeks dolar AS (DXY). Dengan ketidakpastian yang tetap tinggi, Ia mencatat bahwa aliran modal global ke komoditas emas meningkat, sementara aliran modal ke pasar emerging markets tetap sedikit terkendali.