AMRO: Prospek Pertumbuhan Jangka Pendek Indonesia Tengah Hadapi Tantangan

Kegiatan ekspor dan impor di pelabuhan.(Kemenkeu)

ASIAWORLDVIEW- Prospek pertumbuhan jangka pendek Indonesia, seperti ekonomi pasar menghadapi risiko dan tantangan. Apalagi berasal dari kebijakan perdagangan proteksionis baru pemerintah AS dan ketegangan perdagangan global yang meningkatkan ketidakpastian ekonomi di mitra dagang utama, terutama China, Amerika Serikat (AS), dan Eropa.

Dampak potensial terhadap Indonesia, termasuk penurunan ekspor. Tarif impor tinggi dari AS bisa membuat produk Indonesia—seperti tekstil, elektronik, dan hasil pertanian—kurang kompetitif di pasar AS.

Kondisi ini juga menyebabkan gangguan rantai pasok global. Proteksionisme bisa memperlambat arus barang dan bahan baku, memengaruhi sektor manufaktur dan ekspor Indonesia.

Baca Juga: Laporan AMRO: Indonesia Berhasil Pertahankan Pertumbuhan Ekonomi

Bahkan, mengalami ketidakpastian arah kebijakan perdagangan global, terutama dari negara besar seperti Amerika Serikat, memang membuat banyak investor asing bersikap hati-hati. Data terbaru dari BPS dan BKPM menunjukkan bahwa pertumbuhan investasi di Indonesia melambat pada triwulan I-2025, meskipun secara nominal masih tumbuh.

Mungkin akan sulit untuk mencapai target konsolidasi fiskal jangka menengah pemerintah dengan defisit anggaran yang diperkirakan akan melebar akibat meningkatnya kebutuhan belanja dari program prioritas baru.

Tantangan struktural jangka panjang termasuk diversifikasi ekonomi dan peralihan ke status pendapatan tinggi, mempersempit disparitas regional, serta transisi ke ekonomi hijau dengan opsi pendanaan yang terbatas.

Namun, Indonesia tidak tinggal diam. Menurut laporan CSIS, pemerintah tetap berkomitmen pada perdagangan dan investasi hijau, serta mempercepat transisi ekonomi berkelanjutan meski menghadapi tekanan eksternal. Bahkan, ekspor barang lingkungan Indonesia naik 13,7% pada 2024, menunjukkan ketahanan sektor tertentu terhadap tekanan global.