Makna Hari Tarwiyah dan Arafah bagi Umat Islam

Wanita Muslim tengah berdoa

ASIAWORLDVIEW – Puncak ibadah haji dimulai dengan Hari Tarwiyah pada 8 Zulhijah, ketika jemaah bermalam di Mina . Momen ini sebagai persiapan menuju wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah, yang merupakan inti ibadah haji. Momentum ini menjadi fase krusial, menandai rangkaian Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina) yang menjadi inti pelaksanaan haji.

Hari Tarwiyah adalah hari pertama dari serangkaian puncak ibadah haji. Secara bahasa, Tarwiyah berarti “mengambil air”, yang merujuk pada tradisi jemaah haji yang mempersiapkan bekal air dari sumur Zamzam untuk perjalanan mereka menuju Arafah.

Pada hari ini, jemaah melaksanakan salat Zuhur, Asar, Maghrib, Isya, dan Subuh dengan cara qashar (dipersingkat), kecuali salat Maghrib yang tetap tiga rakaat. Tujuan utama dari Tarwiyah adalah mempersiapkan diri secara spiritual dengan memperbanyak doa, zikir, dan talbiyah. Bagi umat Islam yang tidak berhaji, disunnahkan melaksanakan puasa Tarwiyah yang diyakini memiliki keutamaan besar, yaitu menghapus dosa setahun.

Setelah Tarwiyah, puncak ibadah haji berlanjut pada 9 Zulhijah dengan wukuf di Arafah, yang menjadi rukun utama haji dan tidak sah tanpa kehadiran di sana. Wukuf berlangsung dari masuk waktu Zuhur hingga matahari terbenam.

Usai wukuf, jemaah bergerak ke Muzdalifah untuk mabit dan mengumpulkan batu kerikil, kemudian pada 10 Zulhijah melaksanakan lontar jumrah Aqabah, tahallul, dan Tawaf Ifadah. Rangkaian puncak haji ditutup dengan Hari Tasyrik pada 11–13 Zulhijah, di mana jemaah melaksanakan lontar tiga jumrah di Mina.

Baca Juga: Tradisi Lebaran di Indonesia, Halal Bihalal hingga Makan Ketupat

Bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, hari ini memiliki keutamaan tersendiri, yaitu kesempatan untuk melaksanakan puasa sunnah Tarwiyah. Puasa ini merupakan bagian dari amalan yang sangat dianjurkan di sepuluh hari pertama Dzulhijjah, yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai hari-hari paling utama untuk beramal saleh, bahkan lebih utama daripada jihad di jalan Allah SWT.

Sementara, Hari Arafah merupakan puncak Ibadah Haji (Wukuf). Momen ini adalah inti dari seluruh rangkaian ibadah haji. Tanpa wukuf di Padang Arafah, ibadah haji seseorang tidaklah sah. Di saat jutaan manusia dalam keadaan khusyuk, Allah SWT membanggakan hamba-hamba-Nya di hadapan para malaikat. Umat Islam yang tidak berhaji diajak untuk turut merasakan semangat ini, salah satunya dengan berpuasa.

Dalam sebuah riwayat, Umar bin Khattab RA menjelaskan bahwa ayat, “Pada hari ini Aku telah menyempurnakan agamamu, dan telah melengkapi nikmat-Ku atasmu, dan Aku telah memilih Islam sebagai agamamu” (QS. Al-Maidah: 3),

Bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, amalan utama pada Hari Arafah adalah berpuasa sunnah. Keutamaan puasa ini sangat luar biasa. Rasulullah SAW bersabda, “Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang” (HR. Muslim). Ini adalah rahmat terbesar yang Allah berikan kepada umat Nabi Muhammad SAW. Penghapusan dosa ini, menurut mayoritas ulama seperti Imam Nawawi, ditujukan untuk dosa-dosa kecil.

Keseluruhan rangkaian ini menggambarkan perjalanan spiritual yang mendalam, dari persiapan batin di Mina hingga penghambaan total di Arafah, sekaligus memberikan kesempatan bagi umat Islam yang tidak berhaji untuk turut meraih keutamaan melalui puasa dan doa