ASIAWORLDVIEW – Idulfitri atau Lebaran menjadi momen penting bagi umat Islam di Indonesia. Sebagai populasi Muslim terbesar di dunia, masyarakat merayakan Idul Fitri setiap tahun dengan berbagai tradisi.
Mengutip dari berbagai sumber, Sabtu (21/3/2026), tradisi Lebaran bagi masyarakat Indonesia sangat kaya dan penuh makna. Hal ini mencerminkan perpaduan nilai religius dan budaya.
Umat Islam melakukan salat Idul Fitri di masjid terdekat atau alun-alun. Kemudian dilanjutkan dengan tradisi halal bihalal, yaitu saling berkunjung dan meminta maaf kepada keluarga, kerabat, serta tetangga.
Halal Bihalal ini tak lepas dari ajaran agam Islam, “menyambung tali silaturahmi”, tradisi ini menekankan pada menjaga hubungan dan memupuk kerukunan di antara sesama.
Baca Juga: Idul Fitri, Merayakan Kemenangan dan Rasa Syukur kepada Allah SWT
Setelah itu, masyarakat menikmati sajian Lebaran. Ketupat, misalnya, sering dimaknai sebagai simbol pengakuan dan permintaan maaf, karena bentuk anyamannya melambangkan kesalahan yang saling terkait dan perlu dibuka dengan keikhlasan.
Opor ayam dan hidangan berkuah lainnya mencerminkan kehangatan serta keramahan tuan rumah dalam menyambut tamu. Sementara itu, kue kering seperti nastar dan kastengel menjadi lambang kegembiraan dan kemeriahan suasana Lebaran
Bagi masyarakat yang tengah merantau, tradisi mudik atau pulang kampung menjadi momen penting. Mereka rela melalukan perjalanan jauh untuk berkumpul dengan keluarga besar, mempererat silaturahmi, dan menjaga ikatan kekeluargaan.
Anak-anak juga identik dengan tradisi menerima uang saku yang terkadang disebut THR dari orang tua dan kerabat. Lebaran di Indonesia bukan hanya perayaan spiritual, tetapi juga pesta budaya yang meneguhkan nilai kebersamaan, rasa syukur, dan kepedulian sosial.
