ASIAWORLDVIEW – Umat Muslim di seluruh dunia tengah memperingati Hari Raya Idul Adha atau yang juga sering disebut sebagai Idul Kurban hari ini, Rabu (27/5/2026). Peristiwa ini memiliki makna yang sangat fundamental dan multidimensional dalam kehidupan seorang Muslim.
Secara historis, perayaan ini merujuk pada peristiwa agung ketika Nabi Ibrahim AS menerima perintah dalam mimpi untuk menyembelih putra tercintanya, Nabi Ismail AS, sebagai bentuk ujian keimanan tertinggi.
Perintah ini merupakan ujian berat yang menuntut pengorbanan tertinggi, namun baik ayah maupun anak menunjukkan kepasrahan mutlak. Kesediaan mereka untuk mengorbankan apa yang paling dicintai demi menjalankan perintah Allah SWT.
Al-Qur’an surat As-Saffat ayat 102, yang artinya, “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) dan bersiap untuk berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar'”.
Baca Juga: Amalan di Hari Arafah, Capai Puncak Spiritualitas dan Ketahanan Iman
Pada detik akhir pelaksanaan, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba yang besar, sebuah penebusan yang diabadikan dalam firman-Nya, “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar” (QS. As-Saffat: 107).

Peristiwa ini tidak hanya mengajarkan tentang ketaatan dan kesabaran, tetapi juga menjadi pondasi bagi ibadah kurban yang disyariatkan bagi umat Islam.
Selain itu, Idul Adha juga dimaknai sebagai puncak dari ibadah haji, di mana jutaan umat Islam berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf.
Bagi yang tidak melaksanakan haji, makna Idul Adha diwujudkan melalui pelaksanaan salat Idul Adha dan ibadah kurban.
Dalam surat Al-Kautsar ayat 2,“Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!”.
Ayat ini dengan tegas menggabungkan antara ibadah spiritual (salat) dengan ibadah sosial (kurban), di mana daging kurban kemudian dibagikan kepada fakir miskin dan masyarakat sekitar.
Allah SWT menegaskan bahwa yang paling penting dari ibadah kurban bukanlah darah atau dagingnya yang sampai kepada-Nya, melainkan ketakwaan dan keikhlasan hati. Ibadah kurban melambangkan pengorbanan nafsu dan harta benda semata-mata untuk mencari ridha Allah, sekaligus menjadi momentum memperkuat solidaritas dan kepedulian terhadap sesama, memastikan kebahagiaan Idul Adha dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Surat Al-Hajj ayat 34 yang artinya, “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka”.
Idul Adha bukan sekadar perayaan tradisional, melainkan sebuah institusi Ilahi yang sarat akan pelajaran tentang ketaatan, pengorbanan, persaudaraan, dan pengabdian total hanya kepada Allah.
