ASIAWORLDVIEW – Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan ekonomi nasional. BI memastikan bahwa likuiditas rupiah di pasar tetap memadai agar mekanisme pasar dapat berjalan secara efisien dan transparan. Dengan menyediakan pasokan rupiah yang cukup, BI bertujuan agar nilai tukar dapat mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia, seperti inflasi, neraca transaksi berjalan, dan pertumbuhan ekonomi.
“Bank Indonesia hadir di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah mencerminkan nilai fundamentalnya melalui mekanisme pasar yang sehat,” kata Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Sekuritas BI, dalam pernyataan di Jakarta, dikutip Asiaworldvew.com, Selasa (2/9/2025).
Langkah ini juga mencakup intervensi di pasar valuta asing jika diperlukan, serta penguatan koordinasi dengan otoritas fiskal untuk menjaga kepercayaan investor dan pelaku pasar. Melalui pendekatan ini, BI berupaya menciptakan stabilitas moneter yang mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan menjaga daya beli masyarakat.
Baca Juga: Rupiah Terpuruk Hari Ini: Efek The Fed, Geopolitik, dan Kebijakan Utang
BI terus memperkuat langkah-langkah stabilisasi, termasuk intervensi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore dan intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, non-deliverable forward domestik (DNDF), dan pembelian sekuritas pemerintah (SBN) di pasar sekunder.
“BI memastikan likuiditas rupiah yang memadai dengan memberikan akses likuiditas kepada bank melalui transaksi repo, swap valuta asing, pembelian SBN di pasar sekunder, dan fasilitas pinjaman atau pembiayaan,” ia menambahkan.
Pada pembukaan sesi perdagangan Senin di Jakarta, rupiah tercatat di level IDR 16.472 per dolar AS, menguat 28 poin atau 0,17 persen dari level penutupan Jumat sebesar IDR 16.500 per dolar AS. Sebelumnya, Rupiah melemah sedikit sebesar 1 poin, atau 0,01 persen, menjadi IDR 16.354 per dolar AS dari level sebelumnya IDR 16.353.
