ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Jumat (22/8/2025), melemah sebesar 51 poin atau 0,31 persen menjadi Rp16.339 per dolar Amerika Serikat (AS). Sebelumnya Rp16.288 per dolar AS. Penyebabnya apa saja. Jelaskan dalam paragraf
Pelemahan nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, penguatan dolar AS terjadi seiring sikap hawkish bank sentral Amerika (The Fed) menjelang simposium Jackson Hole, yang memicu kekhawatiran pasar akan kenaikan suku bunga lanjutan.
Sentimen investor juga tertekan oleh ketegangan geopolitik Rusia–Ukraina dan pelemahan mata uang regional Asia, termasuk yuan China dan yen Jepang, yang turut menyeret rupiah.
Sementara dari dalam negeri, kebijakan fiskal pemerintah yang berencana menarik utang baru dalam RAPBN 2026 menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia.
Baca Juga: Stablecoin Rupiah, Jalan Baru Menuju Indonesia sebagai Pusat Kripto Regional
Kombinasi tekanan eksternal dan domestik ini memperpanjang tren pelemahan rupiah dalam beberapa hari terakhir. Pemerintah mendorong peningkatan kualitas belanja negara agar setiap rupiah anggaran memberikan dampak nyata bagi masyarakat, seperti membuka lapangan kerja dan memperkuat daya beli.
Dalam RAPBN 2026, belanja pemerintah difokuskan pada program prioritas seperti infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan subsidi energi, yang bertujuan menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan pasar.
Pemerintah juga mendorong eksportir untuk mengonversi devisa hasil ekspor ke rupiah. Hal tersebut meningkatkan pasokan valas dan memperkuat posisi rupiah di pasar.
