ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Selasa (2/6/2026), menunjukkan tren penguatan yang cukup signifikan, dibuka di level 6.210 dan sempat menyentuh angka tertinggi harian di 6.264.
Kemudian bergerak dalam rentang 6.183 hingga 6.222. Kenaikan IHSG mencapai sekitar +1,35% hingga +1,55%, didorong oleh aksi akumulasi beli terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek pasar modal Indonesia.
Volume perdagangan mencapai lebih dari 6,6 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp5,7 triliun. Hal ini menunjukkan likuiditas yang cukup tinggi dan antusiasme investor baik dari dalam maupun luar negeri.
Secara sektoral, kinerja pasar didukung kuat oleh sektor energi yang melonjak +3,23%, sejalan dengan kenaikan harga komoditas minyak dan batubara di pasar global akibat ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi. Selain itu, sektor siklikal (+1,51%), infrastruktur (+1,48%), dan bahan baku (+1,41%) juga mencatatkan kenaikan positif.
Baca Juga: IHSG Tertekan, Investor Asing Jual Rp544 Miliar
Momentum tersebut menandakan optimisme terhadap aktivitas ekonomi riil dan proyek-proyek strategis nasional yang terus berjalan. Di sisi lain, terdapat tekanan pada beberapa sektor seperti transportasi yang turun -1,64%, barang konsumen primer (-0,18%), dan kesehatan (-0,01%), yang mungkin terdampak oleh pelemahan rupiah dan perubahan pola konsumsi domestik.
Faktor pendorong utama penguatan IHSG berasal dari sentimen positif global, terutama penguatan bursa Wall Street dan bursa saham Asia yang didorong oleh antusiasme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI). Akhirnya mendorong investasi di sektor teknologi dan industri pendukungnya.
Tekanan eksternal tetap terasa melalui pelemahan nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp17.859 per dolar AS, dipicu oleh kenaikan inflasi energi global dan ketidakpastian geopolitik yang berpotensi memperbesar defisit transaksi berjalan. Namun, optimisme domestik tetap kuat berkat stabilitas makroekonomi Indonesia yang terjaga, fundamental fiskal yang solid, serta kebijakan moneter yang tetap responsif. Penguatan IHSG mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia, yang berpotensi menarik aliran investasi asing (capital inflow) dan mendukung pembiayaan pembangunan jangka panjang.
Kenaikan sektor energi yang dominan tidak hanya menguntungkan perusahaan tambang dan migas nasional, tetapi juga berdampak positif terhadap penerimaan negara dari ekspor komoditas, yang dapat memperkuat cadangan devisa dan menopang neraca perdagangan.
