Bank Dunia Kucurkan USD800, Dorong Ekonomi Hijau dan Ketahanan Desa di Indonesia

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto

ASIAWORLDVIEW Bank Dunia telah mengalokasikan dana sebesar USD800 juta untuk mendukung program transformasi desa di Indonesia, yang bertujuan meningkatkan 15.000 desa berkembang menjadi desa mandiri. Menurut pernyataan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, setiap desa akan menerima sekitar Rp550 juta sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas lokal, mendorong pembangunan berkelanjutan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menegaskan bahwa dari total 23.000 desa berkembang di Indonesia, 15.000 di antaranya menjadi target utama program ini. Dukungan finansial ini diharapkan mampu mempercepat pencapaian indikator desa mandiri, seperti peningkatan akses pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur, dan pemberdayaan ekonomi lokal, sekaligus memperkuat peran desa sebagai fondasi pembangunan nasional.

“Kami akan mengalihkan desa-desa dari kategori berkembang menjadi mandiri. Saat ini ada 23.000 desa yang telah berkembang, dan kami berencana untuk meningkatkan 15.000 di antaranya,” kata Menteri Yandri Susanto, Senin (6/10/202).

Baca Juga: HUT ke-80 RI: BPS Catat Penurunan Angka Kemiskinan, Naik Versi Bank Dunia

Dia menjelaskan bahwa kementerian meminta keterlibatan Bank Dunia karena keterbatasan anggaran negara. Bank Dunia, tambahnya, telah menyatakan kesediaannya untuk mendukung inisiatif ini, meskipun masih diperlukan pembahasan teknis lebih lanjut.

Pemerintah menyatakan optimis bahwa kolaborasi antara Kementerian dan Bank Dunia akan dimulai pada awal 2026 dan berlangsung selama lima tahun, asalkan tidak ada hambatan besar.

Dana tersebut akan mendukung program-program kunci kementerian yang berfokus pada ketahanan pangan, pengembangan ekonomi hijau, dan inisiatif desa tematik yang mendorong pusat-pusat produksi lokal. Dia menekankan bahwa proyek ini bertujuan untuk menciptakan ekonomi pedesaan yang berkelanjutan dengan memperkuat produksi lokal dan usaha berbasis komunitas.

“Misalnya, desa-desa tematik dan pusat produksi yang telah kami bangun juga akan membantu menyiapkan bahan baku untuk program makanan bergizi gratis (MBG), diikuti dengan inisiatif koperasi desa Merah Putih,” ia menambahkan.