Investor Asing Bersiap Jual Saham Indonesia Usai Rebalancing FTSE

Ilustrasi penurunan harga saham.(freepik)

ASIAWORLDVIEWFTSE Russell, sebagai salah satu penyedia indeks global terkemuka, secara berkala melakukan evaluasi dan penyesuaian portofolio indeksnya melalui proses rebalancing yang dilakukan setiap kuartal, termasuk pada bulan Juni. Dalam rebalancing Juni kali ini, Selasa (2/6/2026), FTSE mengumumkan penambahan daftar saham Indonesia yang dihapus atau dikeluarkan dari sejumlah indeks globalnya, seperti FTSE Global Equity Index Series (GEIS) dan FTSE All-World Index.

Penghapusan ini biasanya didasarkan pada kriteria ketat yang meliputi likuiditas, kapitalisasi pasar yang dapat diinvestasikan (free-float adjusted market cap). Selain itu, kepatuhan terhadap aturan investasi asing dan persyaratan penyebaran (velocity) perdagangan.

Saham-saham yang tidak lagi memenuhi ambang batas minimum tersebut, misalnya karena penurunan volume transaksi harian atau perubahan struktur kepemilikan yang mengurangi free-float, akan dikeluarkan dari indeks. Dampak dari pengumuman ini cukup signifikan bagi pasar modal Indonesia, karena saham-saham yang dihapus biasanya kehilangan aliran dana dari reksa dana indeks global dan dana pensiun yang secara pasif mengikuti indeks FTSE.

Investor institusional asing cenderung melakukan penjualan secara terukur menjelang. Jyga setelah tanggal efektif rebalancing, yang dapat menekan harga saham-saham tersebut dalam jangka pendek.

Baca Juga: IHSG Tertekan, Investor Asing Jual Rp544 Miliar

Selain itu, pengurangan eksposur Indonesia dalam indeks global FTSE juga berpotensi menurunkan bobot (weight) Indonesia secara keseluruhan di mata investor global, sehingga dapat mengurangi daya tarik pasar saham tanah air dibandingkan negara emerging market lainnya.

Namun, di sisi lain, proses ini memastikan bahwa indeks hanya mencerminkan saham-saham yang likuid dan representatif, sehingga menjaga kredibilitas FTSE sebagai tolok ukur investasi.

Keputusan FTSE untuk menambah daftar saham Indonesia yang dihapus pada Juni ini merupakan bagian dari dinamika normal pasar global yang perlu dicermati oleh para pelaku pasar, terutama manajer investasi dan investor ritel yang memiliki portofolio saham-saham terdampak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *